Katopak Panglobar; Antara Doa, Harapan & Cahaya Masa Depan
Filosofi dan makna Prosesi Katopak Panglobâr sebuah Tradisi Khas Masyarakat Madura di Tapal Kuda dalam acara Kirab Obor Pembukaan Festifal Muharram Kabupaten Bondowoso. (Foto : Istimewa)
Wartanu.com - Masyarakat Madura Tapal Kuda menyebutnya dengan Katopak Panglobar sedangkan bagi Jawa Mataraman biasa menyebut dengan Kupat Luwar dan Kubat Bubar bagi Jawa Tapal Kuda.
Katopak Panglobar merupakan ketupat khusus dalam ritual tertentu yang dahulu hampir di seluruh bagian pulau Jawa mengenal jenis ketupat ini, perbedaannya hanyalah pada penyebutan nama dan cara penggunaan dalam ritual yang berbeda.
Semisal di daerah tapal kuda terutama masyarakat Argopuro biasa memakainya untuk menutup acara ruwatan atau selamatan desa yang dalam prosesinya disertai dengan kidung suci pujian kepada Tuhan kemudian dipungkasi dengan pelepasan ayam.
Katopak Panglobar secara harfiah berarti ketupat yang bersifat selesai atau rampung, secara maknawi sama halnya dengan nama kupat bubar atau kupat luwar yang esensinya juga selesai atau lebih mendalam berarti lepas atau terlepas.
Bentuk fisik dari Katopak Panglobar ini hampir sama dengan ketupat pada umumnya, sedang pembedanya hanya bentuknya tidak permanen yang ketika ujung ketupatnya di tarik bersamaan maka rajutan daun ketupatnya terlepas, sedang isi yang berupa beras kuningpun juga akan terurai dengan semburat.
Katopak Panglobar; Antara Doa, Harapan & Cahaya Masa Depan. (Foto : Istimewa)
Katopak Panglobar sebenarnya mengandung nilai perihal harapan atas terurainya segala permasalahan yang bersifat negatif atau dalam bahasa tradisional di sebut sangkala, sehingga dengan simbol semburatnya beras kuning dari ketupat maka seluruh sangkala kemudian berganti dengan energi positif.
Sebab dalam tradisi Jawa beras kuning merupakan simbol kejayaan dan kemakmuran. Ini menjadi makna bahwa ketika beras kuning telah terlepas dari ketupatnya maka menjadi penanda jalan menuju peradaban yang sejahtera akan segera terwujud.
Sedangkan makna dari melepas ayam adalah sebuah lambang pelaku hidup itu sendiri yang telah terlepas dari sangkala, sehingga dengan modal tersebut dapat membangun sebuah kehidupan dan peradaban baru dengan lebih berhati hati tentunya sesuai dengan nilai-nilai norma dan tatanan agama yang ada.
Dalam esensinya Katopak Panglobar hanyalah sebuah simbol pengharapan yang jika itu diterjemahkan dalam bentuk pelafalan doa maka akan berbunyi semoga Tuhan memberikan kekuatan untuk menghadapi segala apapun yang bersifat tidak baik dan berpengaruh buruk pada tatanan kehidupan.
Dan lebih daripada itu prosesi Katopak Panglobar dan pelepasan ayam mengandung makna panjatan dan harapan kepada Tuhan agar kedepan seluruh pemimpin Bondowoso dan segenap jajarannya di berikan kekuatan lahir batin agar mampu membersihkan unsur sangkala yaitu unsur keburukan/negatif dari bumi Bondowoso dan ini sekaligus sebuah simbol janji kepada Tuhan untuk menerima dan menjaga amanah dengan sebaik baiknya.***
Kontributor : R. Mathlubur Rhisky (Mahasiswa Program Doktoral Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo)
Editor : Haris

