Menjadi Santri Selamanya

Ratih Chyntia Dewi, Mahasiswi IAIN Jember dan Koordinator Jaringan Komunikasi PC IPPNU Bondowoso (Tim Editor) 

Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini telah tiba. Saya jadi teringat pernyataan Dr KH Mas’ud Ali, dosen IAIN Jember dan juga pengasuh Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin, Kota Kulon Bondowoso, pada peringatan HSN ke-5, 22 Oktober tahun lalu. Kata beliau : “Santri itu benteng pertahanan Islam, sebagai pelopor mempertahankan ukhuwah dan kemajuan peradaban. Karena itu, santri harus terus mengembangkan potensi diri untuk membangun Indonesia”.

Menurut Kiai Mas’ud, dahulu santri tidak hanya diajarkan tentang keagamaan saja, tetapi juga diajak oleh para kiai dan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) untuk melawan dan mengusir penjajah. Bahkan selama ini, santri telah mampu mewarnai berbagai dinamika kemajuan bangsa dengan mahakarya dan berbagai kontribusi positif dalam membangun dan memajukan bangsa.

Menurut saya, tantangan yang dihadapi santri saat ini berbeda dengan jaman dulu. Sekarang, santri harus pandai memanfaatkan kecepatan arus informasi melalui berbagai media teknologi yang ada. Dengan ini, para santri akan dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Agar tak terjebak dengan kemajuan dan perkembangan teknologi, santri harus bisa berdiri di atas keteguhan dan keistiqomahan prinsip dan karakteristik seorang santri. Karena sejatinya, pesantren sebagai tempat pembelajaran bagi santri, telah menerapkan pendidikan berbasis penguatan karakter, di mana tujuannya dapat melahirkan santri dengan etika luhur, berakhlak mulia, dan berintegritas.

Jika ini dapat dilakukan, saya yakin, maraknya kenakalan remaja, kasus kriminal, dan merosotnya moral para pelajar di Indonesia yang diakibatkan kurangnya pendidikan berbasis karakter, tidak akan pernah terjadi pada santri. Karena sejatinya, berbekal nilai yang ditanamkan di pondok pesantren, seorang santri akan dapat memfilter pelbagai dampak negatif dari perkembangan teknologi yang ada. Ya, karena santri selamanya tetaplah santri, asal bisa dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang ditanamkan kiai dan guru-gurunya.

So, selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2020. Santri Sehat Indonesia Kuat. (*)



Penulis : Ratih Chyntia Dewi, Mahasiswi IAIN Jember dan Koordinator Jaringan Komunikasi PC IPPNU Bondowoso
Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.