Ikhtiar Menggapai Agungnya Cinta Kepada Nabi

Ahmad Basri Saifur Rahman, MHI. Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo (Foto : Tim Kreatif)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن, أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهاَ اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ . قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Alhamdulillah, tiada kata yang pantas untuk kita lisankan kecuali ungkapan syukur kepada Allah atas karunianya yang tak terhingga. Sungguh Allah telah berfirman, jika kita menghitung nikmatNya, niscaya tak kan mampu kita menghitungnya. Diantara nikmat yang agung adalah nikmat menjadi umat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallama. Menjadi Umat Beliau wajib kita syukuri, tanpa kita memohon, Allah dengan kasih SayangNya telah memilih kita diantara hamba hambaNya yang lain, kita ditaqdir menjadi umat Rasulillah SAW. 

Semoga nikmat ini dapat kita rawat dan pertahankan dengan cara memelihara Iman dan taqwa kita. Karena dengan iman dan taqwalah kita masih memiliki harapan dapat berjumpa dan bersua dengan Beliau yang kita cinta dan kita rindukan. Shallallahu ‘alayhi wa ‘ala Aalihi wa Shohbih.

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Sebagai umat Nabi Muhammad, marilah kita berusaha untuk meningkatkan kecintaan kepada Beliau. Kita ajak keluarga, istri dan anak anak serta kerabat untuk mencintai Beliau lebih dari segala galanya. Ajari keluarga kita untuk mengenal lebih dekat kisah hidup beliau juga para sahabat dan keluarganya. Kelak dengan kisah yang terpatri dalam ingatan dan hati mereka, akan melahirkan cinta dan rindu kepada Sang Junjungan.

Sidang Jumat yang dimuliyakan Allah SWT

Mencintai Nabi adalah tuntunan Agama, termasuk perintah Allah SWT. Mencintai Nabi adalah kewajiban bagi Mukmin dan Mukminat, bahkan posisinya sebagai penyempurna iman seseorang. Rasul bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْهِ مِن والِدِهِ ووَلَدِهِ والنَّاسِ أجْمَعِينَ

 “ Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR al-Bukhari).

Semakin tinggi kadar cinta seorang Muslim kepada Nabinya, semakin sempurna kualitas Imannya. Demikian pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW, maka upaya untuk memupuk cinta mutlak harus terus kita ikhtiarkan. 

Para hadir, Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia 

Dalam kesempatan khutbah Jum’at kali ini, Khatib mencoba merumuskan beberapa rumusan yang dapat kita lakukan. Kami berharap, formula sederhana ini dapat melahirkan dan meningkatkan Mahabbah kita kepada Beliau Nabi Muhammad SAW. Rumusan ini terpola menjadi 3 langkah. Agar mudah diingat oleh kita semua, cukup mengingat Akronim atau singkatannya yaitu: BTP (Baca Sirah Nabawiyah dan Syamail, Tauladani hal Ihwal Nabi, dan Perbanyak Sholawat kepada Nabi)

Pertama, Baca Sejarahnya. 

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia, 

Tidak dapat dipungkiri, sudah menjadi tabiat manusia bahwa untuk dapat mencintai haruslah diawali dengan mengenal. Demikian pula untuk menumbuhsuburkan cinta kita Kepada Nabi, kita harus mengenal beliau. Semakin kenal, akrab dan tahu betul keitimewaan akhlak, kasih sayang, simpati dan empatinya kepada kita, maka kita akan semakin mencintainya. Beliau telah berpeluh keringat dan darah demi untuk risalah bisa sampai kepada kita. Agar kita selamat dari siksa neraka dan dapat masuk ke surganya Allah. Itulah di antara sederet alasan kita wajib mencintai Nabi kita, Sayyiduna Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Begitu besar pengorbanan Nabi, begitu gigih semangat dakwahnya dan begitu indah akhlaknya, kesemuanya hanya akan kita dapat ketahui sekaligus mengenal jika kita membaca sirohnya, membaca syamailnya dan membaca perjalanan kehidupannya. 

Membaca memiliki efek atau asar yang lebih kuat dari “hanya” sekedar mendengar. Membaca kisah kisah orang sholih, memiliki efek dan pengaruh menumbuhkan cinta dan semangat. Kisah mereka ibarat ‘tentara’ yang akan memerangi penyakit hati kita berupa sombong, riya’, susah melakukan amal ketaatan, suka maksiat dan sifat buruk lainnya digantikan dengan sifat dan sikap mulia termasuk diantaranya mahabbah terhadap orang atau tokoh yang dikisahkan. Dikatakan dalam sebuah kalam bijak: 

حكايات الصالحين جند من جنود الله تعالى

”Kisah orang orang sholih tak ubahnya tentara diantara tentara-tentaranya Allah SWT”

Jikalau membaca kisah hidup sholihin memiliki pengaruh dalam mematrikan cinta kepada mereka, terlebih lagi cerita itu mengkisahkan sang Junjungan tentu akan memiliki atsar yang lebih agung.

Kedua, Tauladani semua sisi kehidupannya.

Para hadir, sidang jumat yang berbahagia. 

Selanjutnya marilah kita tauladani sifat, sikap dan hal ihwal beliau. Kisah hidup beliau, kita jadikan ibroh atau pelajaran. Pada pembahasan Qoshosul Qur’an dalam Fan Ulumul Qur’an disebutkan, diantara hikmah adanya kisah kisah yang disebutkan dalam al Qur’an, baik kisah kehidupan para nabi dan rasul juga cerita mengenai orang orang sholeh, tak lain adalah sebagai pedoman dan pelajaran bagi kita umat Nabi Muhammad SAW. Hal ini di tegaskan dalam firman Allah pada Surat Yusuf ayat 111 yang berbunyi:

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Kalau kisah para Nabi, Rasul dan orang orang sholeh terdahulu dapat kita jadikan sebagai pelajaran dan kita tauladani, tentu sangat pantas apabila Rasulullah sebagai Nabi kita, utusan Allah paling Agung diantara Utusan lainnya, untuk kita pelajari dan jadikan sebagai Uswah atau Suri Tauladan Pertama dan utama. Allah menegaskan kepada kita akan keluhuran budi pekerti dan Akhlak Rasulullah SAW di banyak ayatnya, antara lain Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” ( QS. al Ahzab: 21).

Dalam ayat lain Allah juga berfirman memuji pribadi Rasulullah:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”

Sikap seorang pecinta sejati adalah berusaha meniru apapun yang terkait dengan yang dicintainya. Lihatlah para pengidola, berbagai atribut mereka koleksi karena cinta terhadap sang idola. Gaya rambut, cara berjalan, berbicara, berpakaian dan bersikap, semuanya mereka tiru dan persiskan.

Sebagai muslimin sejati pengidola Rasulullah, marilah kita tiru dan teladani segala yang terkait dengan pribadi agung beliau. Semoga dengan demikian, Rasul bukan hanya ada dalam angan dan pengetahuan kita, namun masuk menyatu dalam tindak perilaku kita dan pada saatnya akan tumbuh dan berbuah kecintaan yang semakin hari semakin kuat dan membesar.

Ketiga, Perbanyak Sholawat

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Bersholawat adalah ekpresi cinta, sayang dan rindu sekaligus harapan umat untuk lebih dekat dengan Sang Rasul. Sholawat juga merupakan implementasi menjalankan perintah Allah. Sedikitnya lima kali sehari, kita mengerjakan sholat lima waktu. Dan di dalam sholat yang kita kerjakan, bersholawat kepada Nabi menjadi kewajiban. Betapa sholat yang memiliki posisi penting dalam agama Islam. sebagai ibadah mahdhoh khusus antara Makhluk dan Khaliq. Tidak di terima (tidak sah) sholat kita, jika di dalam tahiyyat terakhir tidak menyertakan sholawat kepada Nabi. Tentu ini adalah sebagai petunjuk bahwa Rasulullah memiliki posisi Istimewa disisi Allah SWT. 

Pecinta sejati akan senantiasa teringat dan menyebut sosok yang dicintainya. Demikian pula kita yang mengaku cinta Nabi, pastilah lisan kita akan banyak menyebut sang kekasih dengan cara memperbanyak sholawat kepadanya. Begitu banyak fadhilah memperbanyak sholawat kepada nabi, antara lain disebutkan dalam beberapa hadits bahwa sesiapa yang paling banyak bersholawat kepada Nabi niscaya kelak di akhirat akan dekat dengan nabi Muhammad SAW.

وعن ابن مسْعُودٍ أنَّ رسُول اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَوْلى النَّاسِ بِي يوْمَ الْقِيامةِ أَكْثَرُهُم عَليَّ صَلاَةً

Rasulullah bersabda: "Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku." (HR Tirmidzi).

Dalam hadits lain disebutkan:

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah bersholawat kepadaku pada hari Jumat, karena sesungguhnya sholawat umatku diperlihatkan kepadaku pada setiap hari Jumat. Siapa saja yang paling banyak sholawatnya, maka ia menjadi orang yang paling dekat kedudukanya dariku” (HR. Baihaqi)

Dan tidaklah nabi begitu dekat dengan seseorang kecuali orang tersebut dicinta oleh beliau. Dengan mempersering dan memperbanyak sholawat, bukan hanya akan menumbuhkan tingginya cinta kita kepada beliau, nabi pun akan mencintai kita.

 Demikianlah Para Jamaah Jumat Rahimakumullah, tiga upaya sederhana yang dapat kita lakukan agar kita semakin cinta dan dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Ringkasnya:

Baca lah sejarah, siroh atau Syamail Beliau

Tauladani Sifat, sikap dan Hal hal lainnya dari Rasulullah, dan terakhir

Perbanyak sholawat kita untuk Beliau 

Semoga tiga rumusan ini dapat kita lakukan dan istiqomahkan terus menenerus hingga akhir hayat kita. Besar harapan kita kelak dapat bersama berkumpul dengan beliau, dapat mengenal dan dikenal olehnya. Pandangannya lekat memandang kita umatnya yang merindukannya. Dan semoga pula esok, kita dapat meminum dan merasakan segarnya air di telaga kautsar langsung dari tangan beliau yang Mulia, Aamiin yaa Rabb al ‘Alamiin.

اِنَّ أَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلّامِ. وَاللهُ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُوْنَ. وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. أعُوْذُ باللهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اِنّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ رَحْمَانٌ رَحِيْمٌ


Khutbah ke II:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر


Penulis : Ahmad Basri Saifur Rahman, MHI. Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.