SEPUCUK RINDU

Fazat Nailatul Maghfirah, Mahasiswi aktif Akademik Kebidanan Universitas Islam Jember. (Foto : Tim Kreatif) 
Kala senja tak lagi tampak, kala itupun rindu bersemi. Saat-saat dimana gemulai tangan membelai helai demi helai rambutnya. Disaat itupun senyum wajahnya mulai mengerut. Dan disanalah dadu kehidupan Gresia akan menjadi seperti permainan catur, hitam dan putih.

Senja yang begitu sangat ia kagumi dan ia tunggu-tunggu telah membuatnya sangat ketakutan akan kehadirannya. Ia tak pernah menunggu akan kehadiran senja lagi. Perubahannya begitu sangat tampak bagaikan busur kehidupannya telah terbalik 360 derajat. Ketakutannya membuat anak berusia 5 tahun ini menjadi pendiam, begitu pendiam, hingga tak melontarkan sepatah katapun. Anak yang terkenal akan keceriannya ini menjadi sangat pendiam, membuat ayahnya terus- terusan meneteskan air mata kala melihatnya.

“Anakku.. Gresia.. ayo sayang makan nak, nanti Gresia sakit gimana? Katanya Gresia sayang ayah, Gresia tidak kasiankah melihat ayah menangis seperti ini?” bujuknya untuk makan

“Ayah.. apakah bunda akan bertemu dengan Allah?” spontan kata pertama yang ia tanyakan pada sang ayah, dan pertanyaannya membuat sekeliling keluarganya kaget dan kembali meneteskan air mata.

“Sayang.. cucuku Gresia, bunda Gresia pasti akan menangis kalau melihat Gresia gak mau makan seperti ini,” bujuk sang nenek sambil menggenggam, mencium, kembali menggenggam tangan mungilnya.

“Nenek.. bolehkah Gresia ikut bersama bunda? Kata bunda, manusia yang bertemu dengan Allah adalah manusia yang paling beruntung di dunia ini dan Allah akan memberikannya mahkota yang terbuat dari permata berlian, bolehkan nek?” isak tangis keluarganya semakin menjadi. Bagaimana seorang anak berusia berumur 5 tahun berpikir kritis seperti itu. Darimanakah pemikiran seperti ini muncul dari otaknya? 

Keheningan malam itu seakan membuat malam menjadi gelap gulita. Rintik hujan membasahi tanah halaman rumah Gresia. Lantunan suara hujan mendialogkan irama keheningan. Tak luput juga ayat-ayat suci mulai dibacakan dan bergema di penjuru rumahnya.

Bukan suara adzan, bukan pula suara takbir Idul Fitri yang terus menggema dari mic musholla. Oh tuhan.... intonasi dan lantunan ayat tersebut adalah tanda kematian seseorang.

“Bunda... bunda.... bunda,” isak tangis Gresia sambil berlari kearah sang bunda yang telah digotong dengan keranda keluar rumahnya. Tamu, tetatangga dan keluarga Gresia mengehentikan larinya.

“Cucuku... sabar sayang.. cu..cuku...oh.. ya tuhan..” Sang nenek memeluk dalam dekapannya. Jantung yang berdebar begitu cepat seakan tak ingin berdetak lagi. Dekapan sang nenek membuat Gresia semakin tak henti menangis. Isak tangisnya menampakkan kesedihan begitu mendalam. Ya tuhan.. begitu murninya hati Gresia yang merasakan kehilangan separuh jiwa dan cinta pertamanya.

“Gresia sini sayang... Gresia mau melihat bunda kan? Sini kakek gendong” sang kakek menggendong Gresia selama perjalanan pemakaman bundanya sampai pada liang lahat. Lantunan suara khas kematian masih terdengar begitu keras hingga pada liang lahat bundanya. Sesampainya di liang lahat, tak disangka-sangka Gresia terjun kedalam liang lahat yang disana ada sang bunda mengenakan kafan putih.

“Gresia... Astagfirullah...” ucap sang kakek sambil berusaha menaikkan gresia keatas liang lahat.

“Tidak kakek, Gresia mau ikut bunda, Gresia mau tidur sama bunda disini” isak tangisnya sambil memukul-mukul dada kakeknya saat dipeluknya. Lagi-lagi Gresia terjun ke liang lahat sehingga terpaksa neneknya membawa pulang kerumahnya karena tidak tahan melihatnya begitu sedih dan terpukul seperti ini.

Dua hari kemudian, sungguh kejadian ini masih melekat di hati seluruh anggota keluarganya dan semakin bergemuruh. Pada akhirnya sang paman membawanya untuk melihat burung merpati. Ia pun kembali tersenyum, namun lagi-lagi ia kembali mengerutkan senyumnya. Pikirannya masih terbayang akan bundanya, dan tiba-tiba ia berlari kearah bibinya dan bertanya

“Bibi.. bibi kan adik bundaku.. maukah bibi membawaku bertemu bunda? Pliss bi.....” mohonnya sambil menyatukan kedua tangan dan mengangkatnya kearah bibinya. Permohonannya lagi-lagi mengingatkan tentang bundanya.

“Sayang.. bibi memang adik bunda Gresia, tapi kalau bibi bawa Gresia ke bunda, lantas bibi kalau ditanya bunda mau jawab apa hayoo?” bujuknya sambil mengelus-elus rambut kepalanya.

“Bilang aja bi, Gresia rindu bunda, Gresia ingin memeluk bunda, dan Gresia ingin mendengar dongeng yang bunda ceritakan setiap malam pada gresia, pliss bi... Gresia kangen bunda” ia mulai meneteskan air matanya, tak tahan sang bibi juga ikut meneteskan air matanya dan segera memeluknya. Tangisan keduanya semakin keras dan menjadi.

“Bibi... apakah bunda punya Gresia lagi disana? Sehingga bunda tega meninggalkan Gresia dan ayah disini?” tanyanya lagi, lantas apakah yang harus dijawab bibi akan pertanyaannya. Namun, bibinya tetap menjelaskan segala tentang bundanya.

Seiring berjalannya waktu, Gresia mulai menerima kenyataan ini dan mengerti maksud yang bibinya jelaskan, karena semua yang ada dimuka bumi ini hanya milik Allah SWT. dan semua itu akan kembali kepada-Nya lagi dan semua manusia yang hidup saat ini pasti akan dihadapi dengan kematian. Ia pun mulai merintis masa depannya. Kegaduhan hati seorang anak mungkin hilang tampaknya, namun kenangan yang telah ia simpan dekat hatinya pasti akan dan masih melekat. Karena sesuatu yang dekat dengan hati tidak mudah di hapus atau dilupakan begitu saja dan itu membutuhkan proses.

Hati murni yang dimiliki oleh Gresia membuatnya semakin mengerti tentang hidup. Ia menerima segala rintangan hidup sejak usia dini, bahkan yang seharusnya masa itu digunakan untuk bermain dan bersenang-senang, ia gunakan untuk melawan ketakutan atau trauma yang ada pada dirinya. Hal itu baik untuk Gresia karena sejak dini ia diajarkan untuk melawan semua rintangan tanpa berpaling dan pergi begitu saja. Rintangan hidup banyak sekali yang kita tahu, tapi tidak semua rintangan yang menghampiri kita berhasil tanpa kebranian seperti Gresia ini. Jadi hadapilah apapun itu masalahnya, karena setiap masalah pasti ada solusinya.


Penulis : Fazat Nailatul Maghfirah, Mahasiswi aktif Akademik Kebidanan Universitas Islam Jember

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.