Meniti Perjuangan

Maulana Haris Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum,Tangsil Kulon, Tenggarang, Bondowoso
Mata terbuka menatap langit, lalu berucap 'Alhamdulillah' sebagai wujud syukur atas nikmat bisa menghirup udara kembali setelah beberapa jam berada di pulau kapuk.

Jendela terbuka. Sang mentari langsung memancarkan sinarnya yang begitu terang. Hari ini, sungguh awal kebahagiaan untuk meniti kehidupan yang berkelanjutan.

"Memulai dengan yang baik, maka insyaallah akan baik pula akhirnya," kata Ananta.

"Niat menjadi tonggak pertama untuk kita memulai sesuatu. Awali dengan yang baik, maka perjalanan, tindakan, dan segala yang kita lakukan akan teriringi dengan kebaikan pula. Walaupun hadir sebuah kejelekan yang ingin menghancurkan titik-titik perjuangan yang kita rencanakan," jawab Haris.

Hari semakin siang dan matahari mulai memanaskan sinarnya. Semakin siangnya hari menandakan bahwa sedekah harus segera dikeluarkan oleh raga, jiwa dan segala yang ada dalam organ tubuh. 2 rakaat shalat dhuha harus segera dibayar.

"Yuk, tunaikan sedekah organ yang kita miliki, walau hanya membayar dengan 2 rakaat ini. Karena baginda Nabi Muhammad Saw membayarnya dengan 2 rakaat dan menambah dengan sesukanya," ajak Ananta pada Haris.

"Dengan senang hati dan sudah menjadi prinsip dalam diri. Melaksanakannya bukan sebuah kewajiban, namun kebutuhan dalam hidup. Karena kita sebagai hamba yang mengabdi kepada tuhan," tukas Haris.

Baca juga :

Detik demi detik berlalu, menit demi menit berjalan dan jam demi jam terlewatkan. Mengingat-Mu adalah sebuah perjuangan untuk meraih ridha dari amal perbuatan. Berpaling dari jalan-Mu hanya akan membuat diri semakin jauh akan titah-Mu. Semua perintah yang diberikan sebagai tuntunan untuk meraih surga-Mu.

Akan ada titik jenuh dan malas untuk melanjutkan perjalanan yang penuh perjuangan ini. Namun, kitalah sang pejuang sejati yang tidak akan pernah takut walau duri berceceran, jalanan penuh terjal, hujan deras mengguyur jalanan, ombak besar menerpa, dan angin kencang menghalangi.

3 rakaat tertunaikan, Ananta dan Haris menunggu 4 rakaat untuk melaksanakan shalat Isya'.

"Nak, jangan jadikan shalat sebagai kewajiban. Tapi, jadikanlah shalat sebagai kebutuhan. Kebutuhan hidup dirimu sebagai hamba yang membutuhkan Tuhan. Tanpa-Nya, mungkin kau tidak akan ada di dunia ini. Doa-doamu yang disampaikan kemudian dikabulkan berkat ridha dari Tuhanmu, Nak. Jadi, jadikan hal ini sebagai prinsip dalam meniti hidupmu sebagai pejuang," kata Bapak Imam usai melaksanakan shalat Maghrib. Beliau sekarang menjadi kepala sekolah, menggantikan guru tercinta Ust Abdul Wasik.

"Ris, ini menjadi amanah dalam hidup kita. Bukan hanya sekadar penyampaian semata, namun tiada tindakan dalam dunia nyata. Membiarkan hanyalah menyisakan dosa dan mengamalkan insyaallah mendapat pahala. Tentukan pilihanmu!" tukas Ananta.

"Amanah disampaikan untuk dijalankan bukan hanya menjadi pajangan seperti foto yang dalam kamarmu itu," cetus Haris menanggapi ucapan Ananta.

Sambil menunggu adzan Isya' berkumandang, percakapan mereka semakin sengit untuk didengar. Selain menjaga sopan santun sebagai seorang santri terhadap guru yang menjadi teman percakapannya, Ananta dan Haris menunjukkan ramahnya seorang santri di depan sang guru.

Adzan berkumandang, bergegaslah mereka menuju masjid. Ananta berbelok arah menuju tempat wudhu di depan masjid. Usai menunaikan shalat Isya' mereka berpamitan untuk pulang. 

"Ustadz, kami pamit pulang. Assalamu'alaikum." 

"Oh, iya sudah. Hati-hati di jalan, Nak. Wa'alaikumsalam." 

"Masih muda, tampan, menawan, dan rajin shalat berjamaah. Semoga mereka kelak menjadi penerus perjuangan para ulama. Doa guru selalu menyertai kalian, semoga barokah dan manfaat atas perjuangan yang selama ini kalian buktikan meski belum usai," gumam Bapak Imam sembari melihat Ananta dan Haris pulang.

Generasi muda merupakan pemimpin di masa yang akan datang. Tidak hanya generasi tua yang terus menerus menjadi yang terdepan. Bagaimana pemuda seharusnya belajar dengan gigih mempersiapkan segalanya untuk mengabdikan diri pada masyarakat.


Penulis : Maulana Haris, Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum,Tangsil Kulon, Tenggarang, Bondowoso. 

Editor : Muhlas

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.