Story Santri; Sambut Ramadan Dengan Arebbe

Ilustrasi, Arebbe dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, (Foto : Tim Kreatif) 
Sudah tiga hari aku di rumah. rasanya baru kemarin aku pulang dari pesantren. Tak kusadari ternyata sudah tiga hari di sini. Cepat sekali waktu ini berlalu. Aku yakin, aku akan ditinggalkan waktu kalau hanya rebahan dan duduk saja di rumah tanpa melakukan sesuatu yang tidak produktif. Sejatinya manusia hanya bisa menunda pekerjaan bukan menunda waktu. Maka, gunakan waktumu sebaik mungkin, lakukan hal-hal produktif, apa saja, dimana saja, dan kapan saja. 

Apalagi sekarang waktunya liburan, libur Ramadan. Kebebasan berekspresi bisa kita nikmati sepuas mungkin. Di pesantren, seluruh gerak-gerik kita dibatasi. Misalnya, memegang dan bermain handphone. Santri dilarang keras mengoperasikan handphone itu. Nah, sekarang waktunya liburan. Bebas memegang dan bermain handphone, tapi jangan kebablasan. Karena rusaknya pikiran umat Islam salah satunya adalah karena handphone. Melalui alat sentuh itu, apa pun akan dapat kita akses. Pandai-pandailah menggunakan alat sentuh bernama handphone.

* * *

Aku masih rebahan di kamar tidur. Beberapa hari ini waktuku hanya kuhabiskan di dalam tidur bermain handphone dan laptop. Handphone sebagai alat komunikasiku dan laptop sebagai penggugah selera otakku perihal cerita. Ya, cerita. Tiap malam aku menonton film Hijrah Cinta. Sebuah film yang mengisahkan perjalanan al-Marhum Ust. Jefri al-Bukhori atau yang kerap disapa UJE.

“Ada dimana, Lek Ger?” Tanyaku via WhatsApp.

Tak butuh waktu lama untuk membalas chat-ku, beberapa detik saja Toger langsung mengetik saat kulihat di layar handphone.

“Di pondok, Kak Las,” ucapnya singkat.

“Nanti aku mampir ke rumahnya sampean, Kak Las,” tambahnya.

“Ok siap, Lek,” balasku.

Silaturahmi seperti yang akan dilakukan Toger itu penting sekali untuk dilestarikan. Aku juga sering berkunjung ke rumah santri yang lain, tapi untuk kali ini belum. Di rumah saja selama tiga hari ini. Tapi, bukan isolasi mandiri, ya. Hehehe.

* * *

Salat Ashar sudah kutunaikan. Kulihat handphone tidak ada chat dari Toger yang katanya mau mampir ke rumah setelah dari pondok. Mungkin masih di jalan, pikirku.

Lumayan lama menunggu Toger datang. Sambil menunggu, kuambil sebuah kitab klasik karya Syaikh Salim bin Sumair al-Hadhrami. Kubuka lembar perlembar seakan mencari sesuatu yang bisa kujadikan bahan tulisan. Sengaja kubaca di ruang tamu agar ketika Toger datang langsung bisa menemuiku.

Asyik membaca kitab Safinatun Naja, telingaku mendengar suara sepeda motor dari arah selatan kemudian naik tanjakan kecil dan turun. Wajahnya tersenyum ria menandakan sedang bahagia atau hanya pura-pura saja. Ah, entahlah aku tidak paham. Manusia sekarang memang bisa saja memakai topeng untuk menutupi keadaan dirinya. Aslinya sedih, tapi sok bahagia dan begitu pun sebaliknya.

“Assalamu’alaikum,” kata Toger setelah turun dari sepeda motornya bersama Rozak, santri asal Kemuningan yang kalau di pondok selalu menjadi santri yang super sibuk. Tak ada yang bisa menandingi kesibukannya, pokoknya dialah yang paling sibuk.

“Wa’alaikum salam. Masuk, Lek,” jawabku mempersilahkan masuk dan duduk.

Aku masuk kamar setelah mempersilahkan mereka masuk dan duduk, kemudian ke belakang untuk membuatkan mereka kopi. Orang tuaku kebetulan tidak ada, jadi masalah perkopian untuk mereka kubuat sendiri.

“Tuang sendiri kopinya, ya, Lek,” ucapku kemudian duduk.

“Iya, Kak Las,” jawab Rozak kalem.

“Tenang saja, Kak Las, pasti habis nanti ini,” gelegar Toger dengan tawa khasnya.

Kalem Rozak kali ini. Biasanya ceria walaupun penat. Di pondok, selalu ia sempatkan tertawa bersama walaupun penat dengan segala kesibukannya. Ia masih menutup bibirnya tak berbicara lagi setelah mengiyakan suguhan kopiku. Toger dengan lagak keponya nyerocos saja bicara ini dan itu. Aku hanya tertawa mendengar ocehannya. Bagaimana tidak, ia kalau berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke samping bawah.

“Ngapain ke pondok, Lek?” Tanyaku tetap tertawa kecil karena ocehan Toger.

“Di panggil Lora, Kak Las,” sahut Toger.

“Apa katanya, Lek?” Lanjutku.

“Biasa masalah persalonan, Kak Las.”

Toger dan Rozak ini memang yang ngurusi masalah sound system di pondok. Walaupun Toger baru belajar, ia giat sekali ikut Rozak kalau soal persalonan. Selain itu, Toger juga lah yang menjadi bundahara di pesantren. Jadi, saat Rozak butuh apa-apa kalau memperbaiki listrik, kabel dan lain sebagainya, Toger lah yang berada di garda terdepan memenuhi permintaan Rozak, karena memang ia bendaharanya.

Baca Juga :

Biasanya, di saku mereka selalu terisi lakban hitam berukuran sedang. Sakunya selalu mencolok dengan lakban itu, namun di rumahku ini kulihat saku mereka tak menonjolkan apa pun. Itu tandanya, lakban mereka tandaskan di pondok tidak mereka bawa ke sini.

Rozak mulai menghidupkan rokoknya. Densus 88. Begitulah santri di pondokku menyebut rokok yang disedot asapnya oleh Rozak saat ini. Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil camilan. Baru terlintas di pikiranku kalau di kamarku ada camilan yang setiap malam menemaniku menonton film Hijrah Cinta.

Alhamdulillah masih sisa separuh. Kusuguhkan ke mereka sebagai pendamping kopiku dan rokok Densus 88 bagi mereka. Aku sendiri tidak merokok karena memang tidak diberi ijin oleh orang tuaku, apalagi masih belum bisa mencari uang sendiri. Ibuku bilang, “Kamu boleh merokok asalkan pakai uang jerih payahmu sendiri.” Kalimat itu selalu kupegang sampai hari ini.

“Eh, Kak Las. Rozak tadi ditanya tentang tradisi atau kebiasaan desa ketika menyambut Ramadan dengan Arebbe,” ujar Toger.

“Apa kata Lora, Lek?” Sigapku langsung menjawab lalu mengambil camilan.

“Itu Kak Las tentang bacaan yang dibaca saat Arebbe,” sahut Rozak kemudian menuangkan kopi ke gelasnya. Toger juga menyusul menuang kopi ke gelasnya. Sudah agak dingin, mereka langsung menyeruput kopinya.

Menikmati rokok Densus 88 ditemani kopi hitam kata Toger sangat luar biasa mantapnya. Tak tertandingi bahkan. Toger sesekali sampai mengeluarkan lidahnya dari saking menikmati kopi hitamku. Rokok di tangannya ia sedot kembali lalu mengepulkan asapnya ke atas. Ah, nikmat sekali.

“Bukan Lora yang tanya, Kak Las. Tapi, Kiai tadi pas waktu aku sama Rozak pamit mau pulang,” celetuk Toger.

“Rozak diam tak menjawab, Kak Las,” imbuh Toger tertawa keras sekali.

Rozak yang awalnya kalem kini kembali ceria lagi. Ia ikut tertawa dan memukul tangan Toger karena merasa diremehkan. Toger tidak marah lantaran dipukul Rozak, karena ia paham bahwa pukulan itu sudah lumrah dilakukan saat bercanda tawa dengan teman-temannya.

Kata Toger dulu, kalau kau tersinggung dengan candaan temanmu, itu artinya kopimu kurang pahit dan candamu belum menjadi candu. Aku lebih banyak tertawa kalau bareng mereka ini. Kadang, aku juga suka memperolok Toger dan Rozak. Tapi, itu kalau bercanda dan di dalam kantor. Kalau di luar kantor, jarang tapi pernah. Hehehe.

“Arebbe itu kan bacaannya sama dengan tahlil, ya, Kak Las?” Ucap Rozak.

“Begini, Lek. Arebbe itu tradisinya orang Madura. Sumenep, ya, Sumenep ini lah yang mempunyai tradisi itu,” jelasku.

“Arebbe ini sebutan lainnya adalah ter-ater. Kalau Bahasa Indonesianya itu saling mengantarkan makanan antar tetangga terdekat. Biasanya, sebelum Arebbe ini dilakukan ritual keagamaan sejenis tahlil itu, Lek,” imbuhku.

“Nah, kan betul. Betul tadi apa kataku Zak,” ketus Toger menuding Rozak yang rupa-rupanya sudah menjadi bahasan di perjalanan sebelum ke rumahku.

Rozak unjuk gigi mendengar Toger berkata seperti itu. Secara reflek aku juga mengikuti mereka tertawa kecil mengunjukkan gigi ke permukaan.

“Kalau di sini, Lek. Arebbe ini dilaksanakan di satu tempat. Jadi, nanti pas malam pertama puasa itu sesuai kalender hijriah walaupun masih menunggu sidang itsbat, orang-orang di sini membawa makanan ke salah satu rumah, Lek. Nah, biasanya itu sekomplek rumah, Lek,” paparku menjelaskan.

“Kalau di komplek rumahku ini, Lek, samping kiri rumahku ini dan juga di depannya itu berkumpul di sini, Lek. Mereka membawa makanan ke sini kemudian membaca tahlil bersama setelah itu makanannya ditukar, Lek,” pungkasku.

Kepulan asap rokok mereka masih berlangsung sambil mendengarkanku berbicara. Kulihat kepala mereka hanya mangguk-mangguk saja seakan baru tahu dan langsung paham atau justru memang tidak sama sekali. Entahlah, sangat susah menebak gerak-gerik mereka berdua ini.

Rumahnya pun berbeda. Toger rumahnya di Sumber Jeruk dan Rozak di Kemuningan. Jauh sekali jarak antar keduanya. Sedang rumahku adalah Desa Taman. Bisa dibilang desa yang berada di tengah-tengah antara desa keduanya itu. Rumahnya saja berbeda, tentu memahami mereka juga harus menggunakan cara yang berbeda.

Lanjut Baca :

“Kalau bacaan tahlilnya, Kak Las, apa sama dengan yang di pondok kalau tahlil di astah itu?”

“Hampir, Lek,” jawabku setelah menyeruput kopi.

“Apa bedanya, Kak Las?” Ucap Rozak mengernyitkan dahinya.

“Di awal itu sama, Lek. Bedanya setelah bacaan shalawat itu, Lek. Setelah lafadz ini, allahumma shalli ala sayyidinaa Muhammad yaa rabbi shalli alaihi wasallim. Setelah lafadz itu kan harusnya membaca subhaanallah wabihamdihi subhanallahil ‘adlzim astaghfirullah. Nah, kalau Arebbe ini setelah shalawat tadi membaca asshalaatu wassalaamu ‘alaika yaa rasulullah sebanyak tujuh kali, Lek. Ada juga yang masih membaca subhannallah wabihamdihi kemudian membaca asshalaatu wassalaamu, Lek,” jelasku meramu dari apa yang kualami saat pembacaan tahlil ketika Arebbe di berbagai rumah desaku.

Rozak mengangguk dan mengatakan paham dengan penjelasanku. Sedang Toger tersenyum saat kutatap wajahnya. Tak tahu apa ia mendengarkanku atau tidak, yang jelas Rozak sudah paham dan aku sudah menjelaskan panjang lebar.

“Makan, Lek, makan,” ucapku kemudian mengambil camilan.

Senang rasanya dengan kedatangan mereka. Selain bisa bersilaturahmi juga bisa berdiskusi sebagaimana di pondok yang setiap malam tak pernah absen dari diskusi, baik persoalan agama, sosial, pesantren, dan masih banyak lagi yang menjadi topik bahasan ketika berdiskusi.

Jam sembilan malam di pesantrenku baru bisa turun dari musalla. Biasanya usai kegiatan malam ini kita berdiskusi di kantor pengurus, depan asrama daerah B, halaman pesantren, bahkan depan kantor MTs sudah pernah kita tempati sekadar untuk berdiskusi.

Tak perlu serius dalam mengambil topik diskusi dan tidak harus secara formal segala, seperti ada MC atau moderator. Tidak usah. Lebih baik menggunakan system muy-tamuyan daripada diskusi sampai ada moderatornya segala. Karena survei membuktikan, yang lebih banyak pahamnya ketika diskusinya ini dengan muy-tamuyan ketimbang diskusi dengan menggunakan moderator dan pemateri segala.

“Kalau sudah diskusi seperti ini ingat pas masih di pondok, Lek,” ungkapku mengingat-ingat masa-masa sebelum pulang dengan menengadah ke atas.

“Hehehe. Biasanya di kantor atau halaman, Kak Las,” sahut Toger.

“Biasanya lagi Kak Muhlas makan dulu sebelum berdiskusi,” timpal Rozak sambil tertawa sekali.

Ah, itu kebiasaanku memang. Pernah dulu kukatakan pada mereka sekadar guyon saja. “Aku itu tidak bisa mikir kalau tidak makan dulu, Lek.” Sontak semuanya yang berada di dalam kantor dulu tertawa keras dan menyebutku dengan ‘Tim Menolak Kenyang’. Aku ikut tertawa saja melihat mereka tertawa bahagia meskipun yang mereka ketawakan adalah aku. Bagiku, orang yang cerdas adalah orang yang bisa membuat orang lain tertawa.

“Kak Las pamit pulang,” kata Toger mulai memasukkan rokok ke dalam tasnya.

Rozak juga mengikuti dan mengenakan jaket kebanggaannya.

“Hati-hati di jalan, Lek,” ucapku sebelum mereka benar-benar menghilang.


Penulis : Muhlas, Santri Ponpes Miftahul Ulum Tumpeng

Editor : Gufron

Posting Komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Lebih baru Lebih lama

IKLAN