Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar (bagian dua)

Ilustrasi, Nuzulul Qur'an (Foto : Tim Kreatif) 
“Sebelum membahas apakah Lailatul Qadar terjadi tiap 17 Ramadan seperti katamu itu, Lek, kita harus tahu bahwa peringatan Nuzulul Qur’an itu dimaksudkan untuk memperingati turunnya Surah al-‘Alaq ayat 1-5 kepada Nabi Muhammad SAW bukan memperingati al-Qur’an yang diturunkan secara utuh ke Lauhul Mahfuzh,” tuturku usai melaksanakan Salat Maghrib berjamaah.

Tangga masjid tak lagi kupijaki, aku lebih memilih duduk menyandar di tembok masjid sebelah selatan untuk melanjutkan musyawarah yang sempat dipotong oleh buka bersama tadi.

Haus dan dahaga sudah tak lagi kurasakan, begitu pula dengan Zen dan Musonnip. Duduk kami sekarang melingkar, saling bertatap-tatapan. Kalau tadi ada aku, Zen dan Musonnip, sekarang kami kedatangan tamu musyawarah asal Gentong. Toger namanya, santri penagih uang tahunan di pesantren. Hahaha.

“Kalau yang dimaksud dhamir ‘hu’ pada lafadz anzalnaahu ayat pertama dari Surah al-Qadr adalah sebagiannya saja, artinya hanya Surah al-‘Alaq ayat 1-5 saja, maka itu bukan berarti malam Lailatul Qadar akan terjadi setiap tanggal 17 Ramadan, Lek,” tukasku melanjutkan.

“Kenapa begitu, Kak Las?” Kata Zen menyerangku.

“Karena diturunkannya al-Qur’an itu bertepatan saja dengan malam Lailatul Qadar. Yang namanya bertepatan bukan berarti malam Lailatul Qadar akan terjadi pada setiap tanggal 17 Ramadan,” sahutku spontan.

Tak berkutik lagi Zen kali ini setelah kusergap pertanyaannya secepat kilat. Anggukan kepala saja yang ia lakukan untuk menanggapi jawabanku. Tapi, masih ada satu lagi yang belum kutaklukkan. Musonnip, iya Musonnip. Ia berbeda tipis dengan Zen cara berpikirnya, namun secara aksinya ia tertinggal jauh. Hal itu tidak menjadi persoalan, karena ketika lisan tak lagi didengarkan, maka menulis adalah alternatif yang pas untuk menyuarakan sesuatu.

Baca Juga : 

“Kalau al-Qur’an yang dimaksut dalam Surah al-Qadr itu adalah secara keseluruhan bagaimana, Kak Las?” Kata Musonnip, mengernyitkan dahinya.

“Itu sesuai dengan Surah al-Buruuj ayat 21 sampai 22 bahwa al-Qur’an tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh, Lek. Jadi, al-Qur’an itu diturunkan secara utuh ke Lauhul Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar. Baru kemudian diturunkan kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur dan wahyu pertama diturunkan pada tanggal 17 Ramadan, sehingga pada tanggal inilah diperingati Nuzulul Qur’an,” jawabku spontan pula sebagaimana menjawab pertanyaan Zen tadi.

“Jadi, antara Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar itu berbeda, Lek. Bagi saya, dhamir ‘hu’ pada ayat pertama Surah al-Qadr itu adalah al-Qur’an yang diturunkan secara utuh. Diturunkan kemana? Tentunya ke Lauhul Mahfuzh karena ini nyambung dengan Surah al-Buruuj ayat 21 sampai 22 itu, Lek. Bahwa al-Qur’an tersimpan di Lauhul Mahfuzh,” imbuhku.

Ilustrasi, Nuzulul Qur’an tiap tanggal 17 Ramadan adalah memperingati turunnya wahyu pertama atau Surah al-‘Alaq ayat 1-5 kepada Nabi Muhammad SAW, (Foto : Tim Kreatif) 
“Berarti peringatan Nuzulul Qur’an tiap tanggal 17 Ramadan itu adalah memperingati turunnya wahyu pertama atau Surah al-‘Alaq ayat 1-5 kepada Nabi Muhammad SAW, ya?” Kata Toger menyelang-nyelangi musyawarahku dengan Zen dan Musonnip.

Ia baru nimbrung sekarang di musyawarahku yang dimulai sejak beberapa menit lalu. Memang tanpa rencana, tiba-tiba saja langsung memulai musyawarah. Ini juga menjadi keunikan santri. Tidak banyak rencana, tapi terlaksana. Karena terlalu banyak rencana, hanya akan menghasilkan wacana yang tak berkesudahan.

Memang, apa pun yang akan kita lakukan harus direncanakan agar jelas tujuan yang ingin dicapai. Tapi, terlalu banyak rencana juga tidak baik. Karena hal itu menjadi pemicu perpecahan dan apabila dibiarkan begitu saja akan menjadi perusak. Makanya, santri itu sedikit rencananya tapi terlaksana. Seperti musyawarahku sedari tadi ini, tanpa rencana tapi terlaksana.

“Iya, Lek. Karena yang dimaksut dalam Surah al-Qadr itu adalah secara utuh yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Kalau dianggap sebagian saja, yaitu wahyu pertama maka tentu akan banyak beranggapan bahwa malam Lailatul Qadar akan terjadi setiap tanggal 17 Ramadan. Karena pada tanggal ini al-Qur’an diturunkan. Padahal, Lailatul Qadar ini dirahasiakan oleh Allah SWT. Jadi, tidak ada yang tahu kapan akan terjadi malam Lailatul Qadar,” sahutku.

“Kenapa begitu, Kak Las?” Kata Toger yang fokus mendengarkan penjelasanku.

“Karena malam Lailatul Qadar ini adalah persembahan Allah SWT secara khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW yang umurnya sedikit dan jangka waktu beribadahnya sedikit pula. Yakni hanya berkisar pada 60 sampai 63 tahun. Apabila ada umat Rasulullah SAW yang umurnya lebih dari 63 tahun, maka itu adalah bonus dari Allah SWT,” paparku.

“Dan barangsiapa beribadah bertepatan dengan malam Lailatul Qadar ini, maka ibadahnya lebih baik daripada beribadah selama 1000 bulan atau kalau ditahunkan selama 83 tahun. Jadi, beruntung sekali umat Rasulullah SAW yang mendapatkan malam Lailatul Qadar. Karena ibadahnya yang bertepatan dengan malam Lailatul Qadar ini lebih baik daripada beribadah 83 tahun, sedangkan umur umat Rasulullah SAW berkisar 60 sampai 63 tahun,” imbuhku.

Tidak ada yang berkutik lagi kali ini. Baik Zen, Musonnip dan Toger kini hanya menundukkan kepala dan sekali-kali saling melirik dan tertawa kecil. Firasatku mengatakan kalau mereka tidak akan bertanya lagi. Dari sikapnya saja begitu. Waktu musyawarah di pesantren pun akan begitu jikalau sudah tidak ada yang ingin dibahas lagi.

Tapi, firasatku kali ini melenceng. Jilan yang duduk tidak jauh dari kami kini mendekat. Sepertinya juga ingin bertanya, tapi entahlah apa yang ingin ia tanyakan padaku. Aku siap-siap saja akan ditanyakan apa pun, karena di pesantren aku diajarkan untuk selalu siap. Siap dalam hal apa pun, termasuk hanya di tes atau ditanya-tanyakan perihal keilmuan.

Aku hanya bermodalkan siap saja, tahu tidak tahu itu urusan belakang. Bagiku, yang penting siap dulu. Hambatan dan rintangan pasti ada, karena ketika kita menyatakan siap, hambatan dan rintangan akan siap pula menghadang kita. Tapi, sebagai santri tidak perlu takut, apalagi santri Miftahul Ulum Tumpeng. Karena dulu, kiai sudah menegaskan bahwa santri Miftahul Tumpeng adalah santri yang siap pakai.

Jilan duduk di belakang Toger, tapi aku suruh Zen dan Musonnip melebarkan posisi duduk agar bisa duduk melingkar seperti awal. Jadi, tidak ada yang berada di belakang semuanya berdampingan sejajar.

“Malam Lailatul Qadar itu kan dirahasiakan kapan terjadinya, kira-kira apa yang harus kita siapkan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar itu? Serta ciri-ciri datangnya malam Lailatul Qadar seperti apa?” Ucap Jilan dengan mantapnya.

Jam di handphone-ku menunjukkan pukul 18:15. Sebentar lagi adzan Salat Isya’ akan berkumandang dan untuk menjawab pertanyaan Jilan ini tidak cukup hanya beberapa menit saja. Apalagi aku sukanya yang lama, bukan sebentar kalau sudah musyawarah.

“Lek, anak-anak sudah banyak yang pamit pulang itu. Butuh waktu yang panjang untuk menjawab pertanyaanmu itu, Lek,” kataku menjelaskan.

“Lanjut lain kali saja, Lek. Sekarang ayo pamitan pulang karena sebentar lagi adzan Salat Isya’ akan berkumandang dan di sini akan ditempati Salat Isya’ dan dilanjutkan dengan Salat Tarawih,” tambahku kemudian berdiri mengajak mereka pamitan pada tuan rumah untuk pulang.

Lanjut Baca : 

Senyum bahagia terlihat jelas di wajah tuan rumah, karena yang hadir melebihi kapasitas biasanya. Sekitar 60 orang yang hadir kali ini, biasanya hanya sekitar 30 sampai 35 saja tapi hari ini alhamdulillah banyak yang datang. Dan, itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah.

“Bangga karena banyak yang datang memang iya, Kak Las. Tapi, tuan rumah lumayan banyak juga mengeluarkan isi dompet,” kata Jilan di perjalanan pulang sambil tertawa terkakak-kakak. Aku pun mengikutinya sekadar menanggapi. Hehehe. Zen, Musonnip dan Toger berada di depanku sehingga tidak tahu apa yang aku bicarakan dengan Jilan.

“Kalau untuk kebaikan jangan hitung-hitungan, Lek. Apalagi di bulan Ramadan, karena satu kebaikan akan dibalas 1000 kebaikan oleh Allah SWT,” kataku setengah berteriak karena khawatir tidak terdengar akibat suara sepeda motor.

“Tapi kalau dipikir-pikir, lumayan banyak juga mengeluarkan isi dompet, Lek,” tambahku tertawa terkekeh-kekeh.

Aku langsung pulang ke rumah sedang Jilan meluncur ke Wonosari untuk beli sesuatu. Sebelum berpisah, ia bilang akan silaturahmi ke rumah sekaligus melanjutkan musyawarah yang belum usai.

“Masih penasaran aku dengan tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar itu, Kak Las,” katanya sebelum benar-benar memisahkan diri dariku.

* * *


Penulis : Muhlas, Santri Ponpes Miftahul Ulum Tumpeng

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.