Kisah Heroik Tiga Bersaudara

Tiga sahabat berkumpul bersama Ra Gulam, (Foto : Tim Kreatif)
Saya spontan menjawab, "Iya, saya bawa. Kamu bawa?"

"Iya, aku bawa juga." Dan tertawalah kami berdua karena menyaksikan dan mengalami betapa hebatnya jimat kiai kami itu.

Setelah S2, Sabil pamit mau kuliah di Bandung. Saya memilih di Unair. Tapi sekali lagi, takdir kami harus bersama. Dia gagal ke Bandung dan diterima di Unair. Hahaha. Akhirnya kami satu kos lagi. Bersama sahabat ali Mustofa. Ketua Cabang pertama PMII Wonocolo. Ali Ketua Umum, saya ketua I dan Sabil ketua II.

Pasca kuliah, saya diterima jadi dosen di UIN, Sabil memilih pulang. Padahal jika mau, mungkin dia sudah jadi dosen juga. Tapi dia memilih pulang. Ternyata keinginannya untuk segera menikah adalah alasan utamanya. Hahaha. Sabil adalah orang pertama yang menikah di antara angkatan kami. Saya bersamaan dengan Ali, Ra Ghulam malah agak akhir.

Kalau dalam sejarah pernikahan Muslim saya terlibat, dalam sejarah pernikahan Sabil saya sama sekali tidak terlibat. Dia hanya bilang mau nikah, dengan anak desa. Begitu katanya.

Ternyata benar, benar-benar anak desa. Sangat desa. Hahaha. Ke rumah mertua Sabil harus melewati jalan yang cukup ekstrim. Jalan kecil dan melalui pohon-pohon bambu. Tapi hebatnya, sejak Sabil pulang ke rumah mertuanya, jalannya menjadi lebar, diaspal dan sudah terang benderang. Hahaha. Semua karena prakarsa Sabil.

Takdir kami memang benar-benar bersama. Tahun 2004, setelah menikah, giliran saya yang harus tunduk pada takdir. Saya diminta pulang ke Bondowoso oleh ibu saya. Kembalilah saya dan Sabil berkumpul kembali.

Baca Juga : 

Kami sama-sama mendampingi sahabat-sahabat PMII di Bondowoso, kami sama-sama mengabdi di NU dan terakhir, kami bersama-sama mendukung ide KH. Amin Said Husni untuk mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang Pendidikan. Namanya Alifya. Saya ketua yayasannya, sedang Sabil sebagai bendaharanya.

Tentu Sabil yang sekarang bukan Sabil yang dulu. Bukan Sabil yang gondrong, yang grusa-grusu, yang cara berpikirnya sangat liar. Tapi, Sabil yang sekarang adalah Sabil yang ditakdir menjadi kepala dinas. Kepala BKD di Bondowoso. Sebuah jabatan yang sebenarnya agak mustahil diemban oleh seorang Sabil. Seorang aktivis yang ketika mendaftar menjadi PNS pun harus kami kroyok agar bersedia. Hahaha.

Tapi sampai kapan pun, Sabil tetap lah Sabil. Di balik tanpangnya yang kereng, susah tersenyum, dia tetap sahabat yang sangat peduli pada sahabat-sahabatnya, terutama pada saya. Ketika saya sakit, Sabillah yang paling terpukul, paling sibuk, paling gusar dan dia pula yang paling menentukan saya harus bagaimana saat itu.

Hari ini, dia jadi kepala dinas. Ra Ghulam adalah orang pertama kali yang saling sapa dengan saya terkait nasib Sabil hari ini. Alhamdulillah.

Semoga pandemi segera berlalu, karena kami punya tradisi keliling Jawa Timur dan Jawa Tengah, datang ke Delapan Wali. Semoga tahun depan bisa kembali ke Delapan Wali. Aamiin.


Diambil dari FB M Syaeful Bahar yang berjudul  "Saya, Sabil dan Ghulam"

Editor : Muhlas

Posting Komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?