Gagak Hitam dan Kecerdasan Spritual Cak Mamat

Dr. H. Moh Syaeful Bahar, M.Si Salah satu Dosen FISIP di UIN Sunan Ampel Surabaya (Foto : Tim Kreatif) 

“Sekarang kita tak perlu bahas Macron lagi, kita cukupkan ya. Lama-lama bahas Macron bisa jadi mercon hehehe. Diskusi pagi ini jangan yang berat-berat, gak usah bahas politik, apalagi politik internasional, kita diskusi ringan-ringan saja, sembari menikmati kopi ternikmat persembahan Mak Yam ini,” ucapku membuka diskusi pagi itu sembari nyeruput kopi arabika dan pisang goreng panas Mak Yam.

“Setuju, seratus persen setuju,” sahut Fadlan dengan semangat.

“Ya, sip, saya setuju juga. Boleh rokok an kan Ji?” sambung Cak Mamat dengan wajah memelas, memohon agar keluar fatwa halal ngrokok di Emperen musholla.

“Gak papa Cak, guru saya tidak pernah mengharamkan rokok, kata beliau makruh, beliau juga tak mengatakan haram ngrokok di emperan musholla, asal bukan di masjid ya, tapi agar tetap menghormati Pak Edi dan Pak Salam yang gak ngrokok, mohon sampean agak menjauh ya, di pojok sana dengan Fadlan, sesama penikmat rokok hehe,” jawabku.

“Klok saya tetap ingin bahas Macron laknatullah ‘Alaih,” sambar Kang Parmin.

Hahaha…. ternyata Kang Parmin masih marah. Semoga kemarahan Kang Parmin adalah benar-benar cermin atas kecintaannya pada Rasulullah Muhammad saw, bukan karena nafsunya, bukan karena dia takluk pada ajakan syetan untuk melakukan maksiat, yaitu benci dan lalu marah. Amin

“Sudah Kang, kita cukupkan. Semua sepakat kok, bahwa kita harus dan wajib marah, wajib berada di posisi tak suka atas perlakuan Macron, tapi marah kita harus benar-benar atas nama kecintaan kita pada Rasulullah saw, jangan sampai karena pencitraan, jangan sampai karena kepentingan politik semata. Ingat Kang, kita juga sedang berjuang membersihkan Islam dari citra buruk. Citra sebagai agama teroris. Itukan kerjaannya para radikalis, para teroris, yaitu mereka yang berideologi dan beraqidah khawarij. Sudah banyak korban mereka, bukan hanya non muslim, bahkan umat Islam sendiri yang tak sesuai dengan ideologi mereka dibantai. Tak hanya umat Islam, para ulama kita, ulama sunni yang berusaha keras memperkenalkan Islam Ramah dan moderat pun mereka bunuh, ada Syeh Ramadhan Al Buthi yang dibunuh saat beliau sedang ngajar tafsir di majlis ilmunya, serta Syeh Adnan al- Afyouni yang juga mereka bantai memakai bom mobil,” sambungku.

“Mari saat ini kita belajar mempelajari diri sendiri. Instropeksi diri, sejauh mana kita telah berkomitmen memahami agama ini dengan serius. Jangan-jangan kita hanya nampak atau seolah-olah siap membela Islam, tapi nyatanya kita tak benar-benar siap mempraktikkan Islam dengan sempurna. Badan kita nampak seolah-olah siap perang melawan musuh Islam tapi jiwa kita kosong tanpa roh perjuangan dan komitmen yang kuat,” sambungku kembali.

“Maksudnya apa Ji? Kok mulai sulit saya nalar? Pakai bahasa kaum sudralah jangan pakai bahasa brahmana hahaha,” protes Mas David.

“Hoh dasar muallaf, masak bahasa sufi gak paham. Itu bahasa tasawwuf Mas!”, serang Kang Parmin.

Haha, perang terbuka keduanya kembali berpeluang terjadi kembali.

Melihat keduanya tak ada beda dengan melihat perdebatan antara Rocky Gerung dan Ngabalin di ILC hahahaha, penuh gairah, penuh emosi dan selalu saling salip dalam klasemen kemenangan argumentasi.

“Hehe iya Mas, itu ajaran sufi yang diajarkan di pondok-pondok. Bahwa kita ini jangan sampai terlalu serius ngurusi onggokan daging yang kita kenal dengan nama tubuh ini, fisik ini. Ada yang jauh lebih penting, apa itu? Roh kita, hati kita, nurani kita,” jawabku singkat.

“Maksudnya bagaimana Ji?” tanya Mas David penasaran.

“Mangkanya ngaji, sampean ngaji yang benar, jangan hanya baca buku-buku sekuler yang tak ada sanad ilmunya itu? Dasar anak sekolah. Mondok biar ada cahaya di hati sampean itu!” ujar Kang Parmin kembali.

“Ok-ok, I am sorry, saya akui saya awan tentang hal ini. Tapi saya kan boleh bertanya? Saya boleh klarifikasi? Sehingga saya tak salah paham. Ini penting dilakukan sehingga mekanisme ilmiah benar-benar dijunjung tinggi di diskusi ini. Bukan kayak sampean yang selalu gagal menjadi ilmiah, selalu saja termakan hoax bahkan menjadi pelaku penyebar hoax! Sebelum share saring dulu Kang! Punya otak itu dirawat bukan diedit,” balas Mas David. 

Hahaha….benar-benar terjadi perang dunia di pagi buta.

“Kang Parmin dan Mas David terlalu serius hidupnya, sehingga selalu tegang. Santai Kang, santai Mas! Cobalah ngrokok sesekali, nikmati, resapi, lalu hadirkan kenikmatan rokok ini untuk membunuh keangkuhan dunia ini, monggo….. silahkan dicoba rokok saya ini, Gagak Hitam, ashli, pakai shod produk Bondowoso, hehehe, murah kok, klopun sampean semua ngampung tiap hari kayak Fadlan, insyaallah tak akan mengganggu stabilitas perekonomian dalam negeri saya kok hehehe,” komentar Cak Mamat memecah ketegangan.

Hahahaha…. Semua jamaah ikut tertawa. Sekali lagi saya akui kecerdasan dan kepolosan Cak Mamat. Komentar Cak Mamat menunjukkan kualitas batiniyah Cak Mamat. Kekurangan dalam ekonomi dan keterbatasan pengetahuannya tidak sama sekali mengurangi kecerdasan rohani Cak Mamat. Dia tetap menjadi sosok yang paling optimis di antara kami, dia tetap menjadi sosok yang paling bahagia di antara kami. Subhanallah, maha agung Allah swt yang begitu adil membagi bahagia bagi ummatnya. Bahagia hanya untuk mereka yang pandai bersyukur!!!.

“Begini Mas, di pesantren itu kita diajari salah satu ilmu, namanya tasawwuf. Ini biasanya diberikan pada santri-santri senior yang telah memiliki pondasi fiqh yang kuat. Jika diibaratkan ilmu kedokteran, tasawwuf ini adalah ilmu kedokteran yang berusaha menyembuhkan penyakit-penyakit hati, penyakit roh. Kiai-kiai menyebutnya sebagai Thibbul Arwah atau Thibbul Ruhani. Sebagaimana kata ilmu kedoteran, bahwa tubuh kita ini perlu dirawat agar tak sakit, begitu pula dengan roh kita, nurani kita wajib kita jaga asupan gizinya agar tak tersesat jalan dan akhirnya berujung pada sakit hati,” jawabku singkat.

‘Wah menarik ini, kami yang sudah tua-tua wajib ngaji ini Ji!” komentar Pak Salam.

“Benar Pak, ini sangat penting, bukan hanya untuk mereka yang sudah berumur, tapi bagi siapapun yang ingin meraih bahagia, wajib ngaji ini. Jika serius ingin ngaji ini, nanti saya hadirkan teman saya yang memang seorang sufi, alim dan pandai mengolah rasa, saya sendiri masih tahap baru belajar, jauh dari kata bisa Pak,” sahutku.

“Ok, setuju!!!!!” ujar semua jamaah diskusi pagi ini.

“Baik, mulai besok saya akan hadirkan beliau di forum ini ya, tolong Cak Mamat siapkan rokoknya ya, Gagak Hitam, karena beliau juga perokok seperti Cak Mamat!” pungkasku menutup diskusi pagi ini.


Penulis : Dr. H. Moh Syaeful Bahar, M.Si

Editor : Gufron 

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.