Story Santri: Imanmu Kok Seperti Itu?

Muhlas, Santri PP Miftahul Ulum, Tumpeng, Wonosari. (Foto : Tim Kreatif) 
Adzan Ashar menggema dari corong-corong speaker masjid. Aku masih belum beranjak dari tempat dudukku menuju kamar mandi karena masih asik dengan handphone membaca berbagai postingan di facebook dan instagram. Di Sekretariat Rayon ini aku tidak sendirian, banyak pengurus juga anggota yang belum pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka dengan asiknya membincangkan permasalahan ini dan itu seakan-akan hidup mereka penuh dengan masalah. Aku tidak ikut nimbrung dengan mereka karena otakku sedang kuforsir untuk menyantap postingan-postingan di facebook dan instagram.

Handphone mulai kumasukkan ke dalam tas saat merasa bosan dengan postingan yang begitu-begitu saja. Kuperhatikan pengurus dan anggota yang tidak jauh dari tempat dudukku masih berbincang hangat. Kucoba menghampiri mereka sekedar ingin menyampaikan sesuatu atas perbincangan yang sedari tadi pembahasannya adalah masalah saja, tidak ada yang lain.

“Kalian dari tadi membuat aku pusing. Kenapa yang dibahas hanya masalah saja? Memangnya hidup kalian ini penuh dengan masalah?” ucapku, kemudian duduk bersama mereka.

“Bukankah hidup ini memang penuh dengan masalah, Las?” sahut Yusuf, ia satu angkatan denganku dan menjabat sebagai Bidang 1 Kaderisasi Biro Keilmuan di kepengurusan rayon.

“Hidup ini solusi bukan masalah. Tidakkah kau ingat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa yang diturunkan ke bumi? Atau kisah orang kafir yang masuk neraka kemudian memohon untuk dikembalikan lagi pada dunia?” tanyaku pada Yusuf. Anggota yang duduk melingkar bersamaku hanya terpaku tanpa mengeluarkan satu kata apa pun kecuali Yusuf, yang sedang berpikir keras dengan pertanyaan yang kuajukan tadi.

“Hidup ini penuh dengan masalah, Las. Tidak mungkin kamu tidak mempunyai masalah, semua orang pasti mempunyai masalah,” bantah Yusuf.

“Sekali lagi kutekankan, Suf. Hidup ini solusi bukan masalah. Nabi Adam dan Siti Hawa yang diturunkan ke bumi karena memakan buah khuldi itu tidak pernah putus asa walaupun tidak bisa lagi menikmati keindahan-keindahan atau kemewahan-kemewahan surga. Di bumi, adalah solusi untuk mereka agar semakin mendekatkan diri dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Dengan mereka hidup, mereka masih bisa memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat. Bukankah hidup ini solusi?” jawabku.

“Kau tentu tahu dengan kisah orang kafir yang memohon dihidupkan kembali ke dunia untuk memperbaiki diri, memohon ampunan dan ridha Allah SWT, Suf. Orang kafir itu menyesal setelah ia dimasukkan ke neraka. Akan tetapi, yang namanya penyesalan tidak ada di awal, seperti pepatah madura mengatakan ‘tadek buwenah bettes e adek’. Makanya, jangan jadikan hidup ini sebagai masalah, sekali pun ada masalah, jadikan masalah itu sebagai pendewasaan diri. Terkadang manusia melebih-lebihkan, masalah kecil diperbesar sehingga apa yang terjadi? Rumitlah masalah itu. Tapi, jika masalah itu dinikmati sebagai bentuk pendewasaan diri maka tentu tidak akan terbebani dengan masalah,” lanjutku. Yusuf dan anggota yang duduk melingkar itu hanya mangguk-mangguk tanda mengiyakan perkataanku.

Lambat laun suasana mulai sepi, tidak ada duduk melingkar dan diskusi lagi. Beberapa pengurus sudah pamit pulang duluan, sedang anggota masih belum ada yang beranjak pulang seakan betah di Sekretariat Rayon ini. Di belakang sana—bagian dapur, aroma khas masakan desa terasa sekali, sangat harum. Perpaduan bawang putih yang dicincang halus dengan lada dan garam untuk tumisan kangkung itu sangat menggugah selera. Aku tidak menggubris aroma itu, aku lebih memilih masuk kamar mandi setelah perbincangan tadi tidak ada kelanjutannya.

Usai berwudlu, kulihat segerombolan orang-orang yang berbincang-bincang tadi denganku itu membuat lingkaran baru. Yusuf dengan semangat menceritakan pengalamannya selama menjadi anggota di dunia pergerakan. Berbagai pengalaman yang ia rasakan, pahit maupun manis, ia ceritakan pada anggota yang duduk melingkar dengannya. Itu kudengar saat hendak masuk mushalla untuk menunaikan shalat Ashar.

Aku tidak begitu mendengar apa yang mereka perbincangkan saat shalat karena pintu mushalla kututup rapat-rapat. Tapi, setelah menunaikan shalat, ada perbincangan yang membuatku ingin bergabung lagi dengan perkumpulan itu. Iman, iya masalah Iman yang mereka perbincangkan.

“Menurut kamu Iman itu apa, Dik?” ucap Yusuf pada mereka.

“Iman itu percaya dengan adanya Allah SWT, Kak,” sahut Dik Sinta, salah satu anggota pergerakan dari Maesan.

“Kalau menurut kamu, Dik?” tanya Yusuf sambil menunjuk Dik Amir.

“Sama, Kak. Iman itu percaya dengan segenap hati tentang adanya Allah SWT,” sahut Dik Amir dengan mantapnya.

“Percaya yang bagaimana itu? Apa cukup percaya dalam hati tanpa melakukannya?” sanggah Yusuf.

Aku hanya mendengarkan perbincangan mereka dari dekat pintu mushalla. Aku tidak langsung bergabung begitu saja dengan mereka, kubiarkan mereka semua menuntaskan diskusi mereka sampai akhirnya tidak ada pembahasan lagi mengenai Iman dari lisan-lisan mereka.

“Kalau menurut saya, Kak. Iman itu meyakini dengan segenap hati kemudian mengucapkannya dengan lisan,” Dik Lana mulai angkat bicara setelah dari tadi hanya menyimak. Bukan minyak, ya. Hehehe.

“Nah, iya Dik,” Yusuf pun menyetujui perkataan Dik Lana itu, rupa-rupanya pendapat Dik Lana ini sesuai dengan pendapatnya.

“Iman itu kita meyakini dengan sepenuh hati kemudian mengucapkannya dengan lisan lalu mengamalkan atau melakukannya dengan perbuatan. Seperti kita Iman pada Allah SWT. Kita harus yakin seyakin-yakinnya dengan adanya Allah SWT kemudian kita ikrarkan atau kita ucapkan dengan lisan kalau kita memang benar-benar yakin dengan adanya Allah SWT. Setelah itu, kita melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa kita benar-benar yakin dengan adanya Allah SWT, salah satunya adalah melalui shalat. Nah, Iman itu seperti itu. Bukan hanya percaya saja. Hehehe,” imbuh Yusuf dengan semangatnya mengulas tentang Iman. Semuanya ikut tertawa mendengar Yusuf tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa, aku tidak mengerti. Sebab bagiku, tidak ada hal lucu yang patut ditertawakan,

“Iya, Kak. Di MA saya pernah mendengar itu. Bahwa Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan perbuatan. Seperti itu yang saya ingat dulu waktu di MA,” sahut Dik Haqiqi, salah satu anggota pergerakan asal Tamanan.

“Iya, Dik. Saya di MA dulu juga seperti itu,” sahut Yusuf mengiyakan.

Tidak ada pembahasan lagi setelah itu, beberapa orang sudah membubarkan diri. Aku keluar dari mushalla dan langsung duduk di tengah-tengah mereka. Yusuf berada di sebelah kananku, terpaut satu meter. Sambil memegang buku yang berjudul ‘Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi’ karyanya Ust M. Idrus Ramli, kucoba memperbaiki posisi duduk sebelum memulai pembicaraan.

“Aku sangat tertarik dengan apa yang kau katakan tadi, Suf,” ucapku sambil menatap Yusuf lekat-lekat. Mendengar aku mulai berbicara, anggota yang membubarkan diri tadi mendekat membuat lingkaran kembali. Semuanya memandangku dengan penasaran sambil menunggu apa yang akan keluar lagi dari lisanku.

“Bagaimana, sahabat? Apa yang membuatmu tertarik dengan pernyataanku tadi,” ucap Yusuf sambil tertawa.

“Iman menurutmu tadi itu adalah meyakini dengan hati mengucapkan dengan lisan dan melakukan dengan perbuatan. Seperti itu, bukan?”

“Iya betul, sahabat.”

“Imanmu kok seperti itu?” ucapku sambil mengernyitkan dahi.

“Loh, bukannya memang begitu Iman itu? Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melakukan dengan perbuatan. Seperti kita shalat, itu adalah suatu bentuk Iman kita pada Allah SWT,” sahut Yusuf dengan nada bicara emosi seakan tidak terima pendapatnya diganggu gugat.

“Kalau seperti itu, orang yang tidak shalat itu tidak Iman berarti,” tukasku.

“Imanmu kok seperti itu? Iman itu bukan begitu. Kalau kamu mendefinisikan Iman seperti itu, maka tentu kamu akan mudah mengklaim orang-orang tidak beriman atau bahkan kafir ketika tidak melakukannya dengan perbuatan,” jelasku.

“Iman itu membenarkan secara bahasa. Coba kau lihat dalam kitab Kasyifatus Saja karyanya Syaikh Nawawi Banten. Iman itu التصديق secara bahasa, yang artinya adalah membenarkan. Secara istilah, Iman itu التصديق بجميع ما جآء به النبي صلى الله عليه وسلم. Artinya, membenarkan apa-apa (semuanya) yang datang atau bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Baik itu ucapan, perbuatan maupun pengakuan Nabi Muhammad SAW. Membenarkan, muaranya adalah percaya yang mana percaya ini tentu dengan hati,” imbuhku.

“Kalau Iman menurutmu itu adalah meyakini dengan sepenuh hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan, lalu bagaimana dengan orang bisu yang tidak bisa mengatakan apa-apa? Lalu bagaimana pula dengan orang lumpuh yang tidak bisa bergerak sama sekali? Akankah kau akan mengatakan bahwa mereka itu tidak beriman?” cetusku.

Semuanya diam mendengarkanku yang berapi-api mengulas tentang Iman. Semuanya diam tidak bersuara, tidak menanggapi perkataanku.

“Imanmu kok seperti itu? Iman menurut ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah itu tidak begitu. Iman yang kalian definisikan tadi itu muaranya nanti pada Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Asma Sifat. Betul, bukan?”

“Iya betul, Kak. Di MA ada pembahasan tentang Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Asma Sifat itu,” sahut Dik Haqiqi.

“Itu bukan konsep Imannya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Konsep Iman menurut ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah itu membenarkan apa-apa—semuanya, yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Baik itu ucapan, perbuatan maupun pengakuan. Jadi, jangan lagi kalian mendefinisikan Iman menurut kalian tadi itu, karena itu bukan definisi Iman menurut ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Jika kalian tetap bersikukuh menggunakan definisi itu, tentu kalian akan mudah mengkafir-kafirkan orang,” pungkasku.

Suasana sunyi seketika, setelah tidak ada tanggapan lagi atas perkataanku. Aku pun tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu karena memang tidak ada tanggapan dari mereka. Aku belum beranjak meninggalkan mereka walaupun sudah tidak ada yang menanggapi perkataanku.

“Aku heran ke Kak Muhlas,” ucap Dik Iva setelah beberapa saat.

“Heran kenapa, Dik?” sahutku.

“Kak Muhlas kok bisa paham soal keagamaan, soal Aswaja itu?”

“Background kakak pesantren, Dik. Jadi, sedikit tahulah tentang Iman tadi itu. Kalau masalah Aswaja itu memang kakak tahu sejak kuliah sejak ikut pergerakan ini,” jawabku

“Belajar, Dik. Kemudian perbanyak membaca dan diskusi. Dengan itu, kita akan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui. Tidak suka membaca, iya diskusi, Dik. Tidak suka diskusi, iya berhenti saja kuliah, Dik. Hahaha,” imbuhku.

“Saya itu tidak suka membaca, Kak. Tapi, ingin rasanya membaca agar bisa seperti Kak Muhlas,” sahut Dik Iva.

“Awali dengan membaca novel kalau ingin suka membaca, Dik. Baca novel seperti karyanya Habiburrahman El-Shirazy itu, karyanya beliau tidak hanya cerita cinta belaka tapi ada yang menyangkut ilmu pengetahuan juga, Dik,” ucapku.

“Kalau kamu senang membaca nanti, fokuslah ketika membaca agar bisa memahami isi bacaan, Dik,” imbuhku.

Bubar lagi. Satu persatu mulai membubarkan diri, Yusuf pun mulai asik dengan handphone-nya. Aroma masakan cah kangkung yang sudah matang itu sangat tercium jelas oleh hidungku. Kak Fajar yang tadi memasak dengan beberapa pengurus yang lain sudah menyiapkan kertas lilin untuk makan bersama. Aku makan terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang.

Bondowoso, 20 November 2020


Penulis : Muhlas, Santri PP Miftahul Ulum Tumpeng, Wonosari

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.