Wanita Brilian, Kunci Kesuksesan

Iffah An-Nisa’, Santri PPI Nurul Burhan Putri Al-Iffah 2
Wanita tercipta bukan untuk diperbudak, diremehkan, atau dikucilkan. Namun, wanita tercipta untuk dimuliakan. Perubahan manusia bermula pada cara orang tua mendidik, khususnya ibu. Semua bermula dari wanita teduh berparas menawan dan hati yang brilian, tergantung bagaimana cara ibu mendidik, menyayangi, dan berinteraksi.

Dukungan ibu pada anak sangat berpotensi besar atas kesuksesan anaknya. Untuk itu, kemuliaan seorang wanita bermula saat ia menjadi seorang ibu. Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk berbakti pada orang tua, khususnya ibu. Sebab, yang merasa paling lemah dan kepayahan adalah seorang ibu. Mulai dari mengandung, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui sampai usia dua tahun, mengayomi, dan merawat anaknya sampai dewasa.

Tentang hal ini, Allah Swt berfirman dalam Surah Luqman ayat 14:

ووصينا الإنسن بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصله في عامين أن اشكرلي ولوالديك إلـي الـمصير.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Q.S. Luqman: 14).

Pengabdian seorang anak pada orang tua tidak akan pernah terbalaskan, walau dengan cara apa pun. Harta, tahta, tenaga, dan jiwa tidak akan mampu membalas jasa orang tua, khususnya ibu. Ibu merawat anaknya agar hidup, sedangkan manusia sebagai anak merawatnya sembari menunggu kematiannya.

Baca juga :

Kesuksesan seorang anak tidak luput dari sosok wanita teguh di belakangnya. Karena manusia hebat pastinya terlahir dari seorang ibu yang hebat dan bermartabat. Walau pekerjaannya hanya di dapur saja, didikannya sangat berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup anaknya. Ia mampu menjadi inspirator bagi anaknya, mampu mencetak anaknya menjadi orang yang berprestasi, bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Menjadi ibu bagi wanita itu pasti dan sebelum menjadi ibu sudah sepantasnya sebagai wanita untuk terus belajar dan belajar. Gunanya tak lain untuk mecetak generasi yang militansi. Jangan dengarkan komentar-komentar tidak baik tentang wanita, misalkan “Sarjana kok hanya jadi ibu rumah tangga? Komentar seperti itu harusnya menjadi penyemangat bagi kaum wanita. Karena menjadi ibu rumah tangga adalah anugerah dan pekerjaan yang mulia.

Ibu adalah guru pertama bagi sang anak. Oleh karena itu, sebagai wanita harus menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan apa yang akan diajarkan pada anaknya. Guru saya, Gus H. M. Ruslani, M. Pd.I, mengatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Kecerdasan yang dimiliki ibu sangat berpengaruh besar pada potensi anaknya. 

Tak mengapa wanita sarjana hanya menjadi ibu rumah tangga, karena ilmu yang sudah dipelajari salah satunya akan bermanfaat ketika mendidik anak di rumah. Gus Ruslan juga mengatakan bahwa menjadi wanita sarjana yang hanya di rumah saja sangat bermanfaat, terutama dalam mendidik anak. Karena bisa menjadi ibu sekaligus guru bagi anaknya dan beliau mengatakan beruntung memiliki istri seorang sarjana.

Tak mudah mendidik seorang anak, semuanya butuh ilmu dan tirakat. Tanpa ilmu, apa yang akan diajarkan pada anak-anak kita? Semuanya butuh ilmu, butuh kesabaran dan ketelatenan. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Peran ibu dalam mendidik anaknya sangat penting, penting sekali.

Baca juga :

Hari ini, orang tua, khususnya ibu, mau tidak mau harus menemani dan mendidik anaknya selama pembelajaran dilaksanakan secara online. Bayangkan, jika wanita yang pasti menjadi ibu tidak tahu menahu tentang pendidikan. Apa yang akan diajarkan pada anaknya? Maksimalkah pendidikan yang akan diterima anaknya? Mari, berbenah dan belajar sejak hari ini. Kalau tidak hari ini, lalu kapan lagi?

Berbanggalah menjadi wanita sarjana dan teruslah belajar sebagai modal untuk mendidik anak agar menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Karena dalam agama Islam, wanita ditempatkan pada kasta yang tinggi, mulia dan dimuliakan.


Penulis : Iffah An-Nisa’, Santri PPI Nurul Burhan Putri Al-Iffah 2

Editor : Muhlas

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.