Story Santri; Kontroversi Niat Puasa Ramadan

Ilustrasi Diskusi santri, (Foto : Tim Kreatif) 
Jam di handphone-ku menunjukkan pukul 9:20. Kata kebanyakan orang itu sudah siang dan sangat cukup untuk membuka mata kembali. Tapi bagiku, jam 9:20 bukan waktunya untuk bangun lalu ke kamar mandi. Kurang. Kurang sekali. Aku dari semalam tidak tidur sama sekali karena asyik mengotak-atik laptop, mulai dari belajar menulis berita mau pun nonton film Hijrah Cinta yang masih sampai pada episode 12 part 2.

Sekitar jam lima lewat aku baru bisa memejamkan mata. Salat Subuh kutunaikan dan rencananya memang mau langsung tidur. Tapi, karena film Hijrah Cinta yang begitu asyik mataku enggan untuk terpejam. Kuikuti saja kemauan mataku. Film Hijrah Cinta episode 12 part 2 kutonton sambil tiduran, sedang handphone-ku langsung kumatikan karena tidak ada chat WhatsApp dari siapa pun. Mataku tak mengisyaratkan mengantuk atau tidak. Sekitar jam lima lewat itu, di depan layar laptop mataku terpejam begitu saja tanpa kusadari. Mungkin sudah kehabisan bahan bakar, pikirku.


* * *
Suara panggilan WhatsApp di handphone-ku nyaring sekali sampai membuatku bangun. Kulihat panggilan itu dari Senol, salah satu santri di musallaku tempat mengaji dulu. Setelah kuangkat, ia bilang mau ke rumahku ingin menanyakan sesuatu seputar Bulan Ramadan bersama temannya.

Kutengok jam masih pukul 9:20. Sebentar sekali aku tidur. Anehnya, mataku langsung cerah melihat dunia. Tak ada rasa kantuk padahal hanya empat jam saja aku tidur, dari jam lima sampai jam sembilan. Seharusnya waktu tidur manusia dalam sehari itu idealnya delapan jam, tapi aku hanya empat jam dan langsung cerah melihat dunia bak cerahnya melihat kertas berwarna merah dengan angka nol sebanyak lima di belakang angka satu.

Aku langsung mandi karena sebentar lagi Senol dan temannya mau ke rumahku. Tak elok rasanya kalau aku menemui mereka hanya dengan cuci muka saja, apalagi ini sudah siang.

“Cong, ada Senol sama temannya itu,” kata ibu dari luar.

“Iya, Bu. Suruh tunggu sebentar,” jawabku bergegas menyelesaikan mandi sabunku.

Cepat sekali Senol ini ke rumahku padahal barusan yang meneleponku dan sekarang sudah di rumahku dengan temannya. Apa waktu menelepon tadi temannya sudah ada di rumahnya, ya? Ah, sudahlah, pikirku di dalam kamar mandi.

Handuk kulilitkan ke tubuh sebagai pengganti sarungku yang ada di kamar. Untung tadi aku bawa kaos ke kamar mandi, lumayan lah menemui Senol dan temannya sebentar kemudian pamit mau pakai baju. Biasanya kutandaskan sarung dan bajuku di kamar tidur kalau mau mandi.

Baca Juga :

Usai salaman ke Senol dan temannya aku pamit ke kamar untuk pakai baju. Segera kukenakan sarung dan kaos sengaja tak kuganti, toh baru semalam yang ganti baju. Aku keluar menemui Senol dan temannya. Sebelumnya aku tak pernah mengenal orang yang saat ini bersama Senol di rumahku. Kalau Senol sudah kukenal lama karena rumahnya lumayan dekat denganku.

Senol banyak bercerita tentang hidupnya dulu di pondok yang tidak kerasan kemudian sampai kabur dari pondoknya. Ia juga menceritakan kalau temannya ini bernama Udin. Entah darimana mereka saling kenal aku tidak tahu pasti karena memang aku jarang pulang dari pondok, meskipun usai kuliah.

“Semalam itu Kak Las, aku sama Udin ini cekcok atau debat soal niat puasa, Kak,” ucap Senol mulai masuk pada inti kedatangannya ke rumahku. Di handphone tadi ketika menelepon memang ingin bertanya seputar Bulan Ramadan katanya dan perihal niat puasa ini juga bagian daripada Bulan Ramadan.

“Aku bilang semalam kalau setahuku itu Ramadhana bukan Ramadhani. Nah, katanya si Udin ini Ramadhani bukan Ramadhana, Kak Las. Kalau menurut sampean bagaimana?” Tambah Senol, menceritakan.

“Mengapa Ramadhani? Karena aku punya kitab judulnya Miftahul Jannah, Kak. Jadi, di sana itu lafadz niat puasa Bulan Ramadan ini menggunakan Ramadhani bukan Ramadhana. Makanya, aku lebih setuju memakai itu,” sahut Udin menjelaskan alasannya berpendapat bahwa Ramadhani lah yang benar.

Melihat keduanya tidak ada titik temu yang bisa memuaskan perdebatan mereka sejak semalam, aku masuk ke kamar hendak mencari kitab agar perdebatan mereka menemukan titik temu. Rak buku dan kitab kuperiksa satu persatu, sayangnya kitab yang kucari tidak ada.

Aku keluar membawa handphone. Seharusnya bukan itu yang kubawa melainkan kitab, tapi karena tidak ketemu bagaimana lagi. Kasihan juga kalau Senol dan Udin ini menunggu terlalu lama.

“Kitabku tadi kucari tidak ada di kamar, Dek. Tapi, sebentar aku sepertinya ada foto kitabnya itu yang menjelaskan tentang niat puasa itu. Apakah menggunakan Ramadhana atau justru Ramadhani?” kataku kemudian mencari gambar kitab kuning itu di chat WhatsApp.

“Tunggu sebentar, Dek,” imbuhku.

Kutelusuri satu persatu chat WhatsApp, baik pribadi maupun grup. Semalam memang membahas tentang itu dan memang ada yang ngirim gambar kitab kuning. Pencarianku masih belum berhasil. Akhirnya kucoba langsung cari di galeri agar lebih mudah. Baru kepikiran juga untuk mencarinya langsung di galeri.

“Nah, ini ketemu,” kataku memperlihatkan gambar kitab kuning ke Senol dan temannya.

“Aku juga membahas soal itu semalam, kalau tidak salah di grup apa gitu, lupa sudah. Memang ada yang berpendapat menggunakan Ramadhana semalam dan juga ada yang berpendapat Ramadhani,” lanjutku menjelaskan.

“Terus, Kak Las?” Sahut Senol penasaran.

“Kalau kata guru SMK-ku, boleh saja menggunakan Ramadhana atau Ramadhani karena sama sahnya, katanya. Tapi, kalau orang yang paham Nahwu-Sharraf atau ilmu gramatika Arab itu tentunya akan menggunakan Ramadhani karena kalimat tersebut diidhofahkan kepada kalimat setelahnya, yakni kalimat ‘Haadzihis Sanati’. Sehingga itu menjadi susunan kalimat mudhaf dan mudhaf ilaih, Dek,” ungkapku.

Entah mereka paham atau tidak aku tidak mengerti. Kalau dilihat dari wajahnya, sepertinya kebingungan mereka. Apalagi Senol yang mondoknya hanya beberapa bulan saja dan belum pernah merasakan pelajaran Nahwu-Sharraf. Ia dulu kabur dari pondok karena tidak kerasan. Katanya, kepikiran orang tuanya terus.

Baca Juga :

Semua santri pasti kepikiran atau rindu pada orang tuanya, apalagi pada ibu. Tapi, hal itu tidak menjadi alasan untuk tetap bersemangat menimbal ilmu di pondok pesantren. Dengan dimondokkannya kita oleh orang tua, itu pertanda bahwa orang tua siap dan rela berpisah dengan anaknya. Sebetulnya memang berat berpisah dengan orang tua atau orang tua dengan anak, tapi demi masa depan anaknya orang tua harus siap dan rela berpisah dengan anaknya di pesantren. Orang tua kita sudah rela berpisah dengan kita, lalu apakah kita juga tidak akan rela berpisah dengannya?

Kalau si Udin katanya masih belum sampai ke pelajaran Nahwu-Sharraf. Ia baru tiga tahun di pondoknya dan baru menduduki kelas dua ibtidaiyah, sedangkan pelajaran Nahwu-Sharraf di pondoknya dipelajari di kelas empat ibtidaiyah. Tapi, kalau diperhatikan lagi si Udin ini tidak terlalu terlihat bingung dengan jawabanku. Mungkin ia sudah mempelajari dasar-dasarnya saat musyawarah atau munadzlarah.

“Kalau yang di kitab tadi itu, Dek, maksudnya begini. Kalimat Ramadhan dalam niat puasa itu dibaca jer atau kasrah karena kalimat Ramadhan itu dimudhafkan kepada kalimat setelahnya, yaitu kalimat ‘Haadzihi’ yang disebut dengan isim isyarah. Itu di dalam kitab I’aanatuth Thaalibiin katanya, Dek. Bisa dicek kalau punya kitabnya. Insyaallah ini benar, aku yakin,” mantapku memaparkan persoalan niat puasa.

“Kira-kira begitu, Dek. Wallaahu a’lam bis shawaab,” pungkasku.

“Kalau sampean mau pakai yang mana, Kak? Pakai Ramadhana atau jutsru Ramadhani?” Celetuk Udin.

Berat yang mau menjawabnya. Mau pilih yang Ramadhana khawatir disangka menyalahkan orang yang pakai Ramadhani. Secara gramatika Arab, lebih pas menggunakan Ramadhani daripada Ramadhana. Aku masih berpikir akan menjawab apa dengan pertanyaan itu. Dari saking lamanya memikirkan sampai aku dipanggil berulang-ulang oleh Senol tapi tak kujawab.

“Ehh, iya. Maaf melamun terbawa suasana pikiran tadi,” ucapku terpatah-patah.

“Harus pakai yang mana kita ini, Kak Las? Mayoritas masyarakat di sini menggunakan Ramadhana daripada Ramadhani. Lalu, kita harus bagaimana? Ikut mereka menggunakan Ramadhana atau bertolak belakang menggunakan Ramadhani?” Tanya Senol setengah mendesakku agar segera menjawab.

Kali ini tak ada pikir-pikir lagi. Harus kuutarakan bahwa yang lebih pas memang menggunakan Ramadhani dari pada Ramadhana. Ini bukan suatu bentuk provokasi, namun nyatanya memang begitu. Mayoritas masyarakat memang menggunakan Ramadhana dan aku yakin itu hanya karena ikut-ikutan saja. Andai di musala-musala atau masjid-masjid usai Salat Tarawih dan Witir yang memimpin niat puasa menggunakan Ramadhani, maka tentu masyarakat akan mengikuti dan akan menjadi kebiasaan jika dilakukan dengan istiqomah.

“Kalau aku menggunakan Ramadhani, Dek. Karena itu memang yang benar secara gramatika Arab. Tapi, bukan berarti orang yang menggunakan Ramadhana itu salah. Bagiku bukan salah, tapi keliru,” tegasku.

“Memangnya apa perbedaan salah dan keliru, Kak Las? Bukankah keduanya sama saja?” Sahut Senol.

“Salah itu sudah tidak bisa diperbaiki, bagiku. Tapi, kalau keliru itu masih bisa diperbaiki. Di awal tadi kan aku mengatakan kalau kata guru SMK-ku mau pakai yang mana pun sama-sama sah, tapi bagi orang yang paham Nahwu-Sharraf pasti akan menggunakan Ramadhani. Nah, aku memilih menggunakan Ramadhani karena dua alasan. Jadi, tidak sembarangan,” jawabku tertawa kecil.

Senol dan Udin heran karena aku menyebut pilihanku ada alasannya. Ia saling menatap kemudian mengernyitkan dahi tanda tak tahu apa yang menjadi alasanku memilih menggunakan Ramadhani daripada Ramadhana.

“Memangnya apa alasannya, Kak?” Ucap Udin penasaran.

“Pertama, karena secara gramatika Arab kalimat Ramadhani lah yang tepat dan pas dan yang kedua adalah karena sah. Jadi, konkrit kalau menggunakan Ramadhani,” lugasku, menjelaskan.

“Emmm,” gumam Senol.

“Berarti kalau menggunakan Ramadhana pendukungnya hanya sah saja, ya, Kak? Tidak dengan secara gramatika Arab?”

“Iya, Dek. Secara gramatika Arab yang lebih pas dan tepat itu, ya, menggunakan Ramadhani bukan Ramadhana,” sahutku tetap tertawa kecil.

“Paham, wes,” tegas Senol.

Lumayan lama berbincang-bincang dengan mereka berdua walaupun sebelumnya aku belum mengenal Udin, temannya si Senol itu. Tapi, karena perbincangan tadi, alhamdulillah bisa kenal dan saling bersahutan mulut. Memang yang dibahas hanya persoalan niat, remeh-temeh sebenarnya. Tapi, jangan mengentengkan karena apa pun amal perbuatan kita tergantung pada niat dan apa pun yang kita lakukan harus disertai dengan niat.

“Terima kasih penjelasannya, Kak. Semoga bisa ketemu kembali,” ucap Udin.

“Pamit, Kak Las. Masih mau jalan-jalan katanya si Udin ini,” timpal Senol.

“Iya, hati-hati, Dek.”


Penulis : Muhlas, Santri Ponpes Miftahul Ulum Tumpeng

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.