Esensi Lebaran, dari Bermaafan Hingga Bonus Ontalan

Selain moment bermaaf-maafan, Lebaran Idul Fitri menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak usia dini
"Cong, gimana puasa untuk tahun ini?" tanyaku pada sepupu yang masih berumur 5 tahun. Dia yang kadang semangat dan kadang kendor dalam menjalankan ibadah puasanya. Maklum masih kecil juga. Heheheh

Entah kenapa, dia langsung memeluk erat badanku dan tertawa."Hehhheh Full dong," kelakarnya. 

"Ah, tidak percaya saya. Kayaknya kemaren kamu habis makan permen dikamarnya ayo. Hahahaha," imbuhku untuk mengalihkan suasana dan mengajari dirinya untuk bisa berbuat jujur tanpa ada tekanan dan paksaan. 

Tidak ada kata, tidak ada raut. Mimik wajahnya mulai mendatar. Bahkan, pelukannya semakin erat. Seakan tidak mau lepas dari badanku. Hingga tidak lama kemudian, air matanya menetes. Aku tidak mengerti, padahal hanya pancingan agar kebiasaan jujur terus ditanam dalam dirinya semenjak kecil. 

Kemudian, datanglah ibunya, pak de, bu de dan sekeluarga Bani Musakki' kerumah. Dengan hamparan teras seadanya serta sederhana dan tidak begitu luas. Satu keluarga berkumpul di hari yang penuh dengan tanda kesucian bagi umat muslim. Sebab, telah melaksanakan kewajiban dalam setahun sekali yaitu Ibadah Puasa. 

Nostalgia Ramadan akan terus berkumandang dan menyesak dalam dada setiap insan. Sebab, ditinggalkannya adalah hal yang menyedihkan. Sebab, terpisah dengannya adalah hak yang tidak pernah ingin direncanakan. 

Baca Juga :

Namun, setiap pertemuan ada perpisahan. Akan tetapi, seseorang harus mampu memberikan nilai dalam perpisahan tersebut. Yaitu, garansi jaminan dari Allah swt yang diberikan kepada umatnya yang mau berpuasa di Bulan Ramadan. Bulan penuh berkah, penuh rahmat, penuh maghfirah dan bulan yang memberikan garansi jaminan terbebas dari api neraka. 

Di momen yang fitri ini sudah menjadi adat dalam desa. Silaturahmi kerumah saudara. Saling bermaaf-maafan satu sama lain. Untuk menghapus dosa yang telah berlalu dan menghapus segala salah yang pernah melekat. 

Namun, berbeda dengan sepupuku yang satu ini. Dimas namanya. Menangis tanpa henti. Hingga akhirnya membuat diriku bingung bagaimana bisa mengalihkan tangisan tersebut berubah menjadi tawa bahagia di hari kebahagiaan. 

"Cong, cong mau minta ontalan ndak nih?" tanyaku padanya sembari tersenyum manis. Agar tetesan air matanya mengering berubah menjadi senyuman jua. 

Masih belum ada respon sedikitpun. Berbagai cara dikerahkan dan dilakukan. Sebab, hanya padaku dia bisa memendam. 

"Eh, kalau jadi laki-laki itu tidak boleh cengeng. Harus hebat dah kuat." inilah jurus andalan dan bisa merubah suasa kebahagian tersebut. 

"Mana ontalannya cak?" tanyanya langsung padaku sembari tersenyum lebar. 

Akupun tertawa terbanyak-bahak. Akting anak zaman sekarang memang hampir mengalahkan artis sinetron damar wulan pada masanya. Hahahahah

Ku uluhkan tangan dengan genggaman uang didalamnya. Sebelum uang itu diterima, ku tantang untuk bagaimana bisa mendapatkan uang tersebut. Dengan bisa membuka genggaman tangan yang tertera uang didalamnya. 

Kekuatan dahsyat dilakukan, hingga akhirnya uang itu beralih pada genggaman tangan sepupuku itu. Heheheh hebat sekali memang. Semoga menjadi generasi harapan di masa depan kelak kemudian. 

"Hehehehe aku dapat ontalan, aku dapat ontalan, aku dapat ontalan. Hehehe." bahagianya sembari melompat-lompat. 

Membuat kakaknya, sepupunya dan seluruh kacong-kacong Bani Musakki' menghampiriku dan menadahkan tangan yang sama. Hahahaha THR-an jadi korban. 

Ketika semua sudah kebagian, mereka semua menggelut kepadaku. Dan, duduk berkumpul. Hingga akhirnya aku tanya satu per satu. Dengan pertanyaan yang sama. Sudah dapat berapa ontalannya? 

"Dani!!!, ayo jawab," perintahku sembari menunjuknya. 

Dia tertawa sambil mengeluarkan uangnya yang berada dalam saku bajunya. Dihitunglah dengan dibantu saudara yang lain. 

"Aku dapat Rp. 350.000 cak," ucapnya kakak dari Dimas. 

"Wah cukup itu buat beli baju baru lagi," kataku. 

"Fatim, ayo dapat berapa?" kagetnya seakan tidak menyangka sudah sampai penghitungan ontalan miliknya. Heheheh

"Dapat Rp. 200.000," sedikit cemberut karena lebih sedikit dari jumlah Dani. Heheheh 

"Tidak apa-apa, kan yang penting dapat ontalan," 

Semua berhitung, ada yang mendapatkan lebih dari Rp. 500. 000, Rp. 50.000 dan lain sebagainya. Itulah Rekapitulasi Ontalan dengan segala dimensinya. 

Namun, kini pertanyaan itu berbalik arah kepadaku. 

"Čak harisnya dapat berapa ontalannya?" diam tanpa kata. Sebab, tidak mendapatkan apa-apa. Hahahaha 

"Makanya cepat tunangan. Nanti seluruh keluarga disini akan memberikan satu per satu," janjinya dan pungkas dari cerita ini. 

Semoga bermanfaat 


Penulis : Haris

Editor : Gufron

Posting Komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Lebih baru Lebih lama

IKLAN