Produk Santet Modern

Ahmad Aqil Al Adha, Santri Ponpes Nurul Jadid yang baru lulus MTS NJ
Teknologi adalah bagian yang sangat kita butuhkan. Pada kegiatan sehari-hari, pasti selalu berkaitan dengan teknologi untuk memudahkan berbagai aktivitas. Tak terkecuali dengan santet. Santet adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam, seperti; menaruh kemenyan di depan rumah si korban.

Biasanya santet sering dilakukan orang yang mempunyai dendam karena sakit hati kepada orang lain. Santet dapat dilakukan sendiri maupun dengan bantuan seorang dukun atau "orang pintar". Sedangkan kita berada di era modern, santet pun ikut larut di dalam zaman itu. Dan inilah contoh santet modern.

***

Sepi, bangkrut dan sengsara. Itulah beberapa hasil yang didapatkan seorang lelaki selama akhir-akhir ini. Karena ada toko saingannya yang baru buka pekan ini. Tak pernah sekali pun dia laris habis dagangannya.

Sudah banyak cara dia lakukan untuk bisa mendapatkan keuntungannya dari menjual sembako lengkap, sampai selalu memberikan potongan harga kepada siapa pun yang membeli di toko itu. Tetapi, bagaikan mencampurkan air dengan minyak. Hanya beberapa pelanggan saja yang membeli, itu pun dia sangat terpaksa membeli di sana, karena toko lain sudah tutup atau kehabisan barang. Dia sangat kebingungan, karena apa yang dia jual sudah mulai busuk.

Baca Juga : 

Sangat berbeda keadaannya dengan toko di depan –agak jauh, kira-kira 10 meter -yang sangat laris manis, hampir setiap hari dagangannya habis, terkadang sampai kekurangan barang. Toko itu menjadi langganan ibu-ibu rumah tangga, sampai-sampai dia bingung siapa yang harus dia layani terlebih dahulu. Mungkin dia salah satu orang beruntung di dunia, berdagang tanpa harus bersusah payah lebih, seperti toko di depannya.

Dengan rasa putus asa, pemilik toko yang sepi pembeli itu, pergi ke seorang mbah dukun terkenal nan sakti mandraguna. Dia meminta bantuan agar tokonya laris manis seperti saingannya –toko di depannya.

Dengan mata tertutup, mbah dukun pun mengiyakan apa yang dia mau. Sambil komat-kamit mulutnya membaca mantra dengan segelas air, lalu pasien disembur. Ppruacch siah (bunyi dari semburan).

Si lelaki yang meminta bantuan bingung tujuh langit. Sebab, mbah dukun bukannya meramal atau menyihir, tetapi malah menyanyi lagu “Mbah Dukun” ciptaan Alam itu. Seketika lelaki itu menepuk pundak mbah dukun. Tepukan itu membuatnya kaget bukan kepalang. Akhirnya, mbah dukun memberikan benda berbentuk persegi panjang agak pipih. Si lelaki itu tambah pusing, “Untuk apa nih barang?”

“Dengan barang ini kamu bisa menyaingi sainganmu. Pertama, kamu harus menghidupkan benda itu dengan menekan tombol di samping. Kedua, tekan aplikasi bergambar kamera di dalam sana, dan kamu foto toko sainganmu. Terakhir, kamu harus menaruh foto itu di dalam aplikasi itu dengan menambah kekurangannya,” ujar mbah dukun sambil mata tertutup dan mulut berkomat-kamit.

“Dan syarat apa yang saya harus lakukan untuk bisa mendapatkan benda itu?”

“Syaratnya gampang. Kamu hanya harus memberikan seperempat pendapatanmu selama menggunakan barang itu. Karena barang itu harus mendapatkan pengisian ulang yang cukup, dan satu-satunya itu adalah saya,” ujarnya, dengan berlagak sombong.

Lelaki itu pulang dengan hati lega, karena sudah membayangkan tokonya bisa kembali laris seperti sebelum ada saingannya.

***

Pagi hari itu, sinar matahari sinarnya indah dan menghangatkan badan di ujung timur sana. Ayam berkokok yang bertugas membangunkan warga sudah lama berkokok, awan di atas sana sangat cerah, tumbuh-tumbuhan hijau pun tampak segar terkena cahaya matahari, burung-burung pun berterbangan di atas sana. Lelaki itu melakukan apa yang diperintahkan oleh mbah dukun. Dia membuka benda itu dan memfoto toko saingannya, kemudian menaruh foto itu di dalam aplikasi.

Hari demi hari, beberapa pelanggan setia dari toko saingannya pun mulai berkurang, karena si lelaki itu menyampaikan berita di aplikasi tersebut bahwa toko saingannya berjualan menggunakan guna-guna, barang yang dijualnya juga tidak layak pakai dan lain-lain. Dan sebaliknya, para pelanggan setia dari toko sainggannya berbalik arah kepada si lelaki itu. Dia berjualan sepeti dulu, setiap hari dagangan di tokonya hampir habis. Keadaan kembali normal.

Warga di sekitar cepat sekali percaya kepada berita itu, terutama ibu-ibu rumah tangga. Kini toko itu menjadi topik dari gosip yang hangat di tengah masyarakat, sampai-sampai ada beberapa warga yang melaporkan ke pihak kepolisian. Tetapi, untung saja pihak kepolisian masih kurang percaya karena bukti-bukti warga yang kurang kuat. Karena itu, polisi belum bisa melakukan penyelidikan.

Ada saja beberapa warga yang hanya larut dalam berita –sebelum mengetahui berita sebenarnya. Begitu juga si lelaki pemilik toko yang disantet. Dia sangat bingung karena biasanya perminggu dagangannya baru habis dan mengambil kembali persediaan bahan dagangan, dan sekarang sampai sebulan pun dagangannya masih saja tertumpuk rapi.

Sampai dia pernah bertanya kepada seorang warga yang masih tetap setia berbelanja kepadanya.

“Ada berita yang mengatakan toko kamu itu menggunakan guna-guna, bahan pangan tak layak pakai dan lain-lain. Tetapi, saya setiap hari berbelanja di sini, tak terjadi apa-apa ini,” ujar pelanggannya yang juga kebingungan.

Pemilik toko itu tak langsung berburuk sangka kepada toko saingannya. Dia hanya berpikir, “Mungkin pelangganku bosan dengan apa yang dijualku.” Karena itu dia mencoba mengunjungi toko di depannya, tetapi tidak ada yang berbeda dari toko si lelaki itu.

Dia hanya merasakan kejanggalan orang-orang di sekitarnya seakan-akan dia adalah pendatang baru yang membawa kejahatan karena setiap orang yang dilewatinya memandang sinis.

Satu satunya cara agar dia bisa mengembalikan situasi menjadi normal adalah dia pergi kepada ahli agama yang banyak dipercaya oleh warga desa tetangga karena situasi ini sangat memukul ekonominya.

Ketika sampai di tempat kediaman si ahli agama, dia langsung dibukakan pintu sebelum mengucapkan salam.

“cepat, sebelum ada yang tahu.”

Dia pun mengikuti apa yang diperintahkan si ahli agama. Disuruhnya ia duduk, dan si ahli agama mengambil sebuah benda yang berbentuk persegi panjang pipih. Kejadiannya sama seperti si lelaki yang bingung ketika mbah dukun mengeluarkan benda yang sama seperti yang dikeluarkan si ahli agama. Hanya saja berbeda penggunaan.

Lanjut Baca :

“Yang digunakan oleh sainganmu adalah benda ini. Dia bisa menyebarkan berita apa pun dengan cepat dan tanpa sepengetahuan si subjek yang diberitakan dalam berita tersebut, dan biasanya tempat-tempat strategis ialah di tiang listrik, pohon-pohon dan tembok-tembok pinggir jalan yang sering dilewati banyak orang,” ujar si ahli agama.

"Pertama, untuk mengalahkan sihir sainganmu, kamu harus menghidupkan benda itu dengan menekan tombol di samping. Kedua, kamu harus mengambil foto daganganmu dengan cara menekan aplikasi yang bergambar kamera dan seketika benda itu mengganti berita-berita kebohongan tentang daganganmu bahwa kamu tidak menggunakan guna-guna dan apa yang dijual masih layak atau bahkan masih segar dan bisa untuk mempromosikan daganganmu atau menjatuhkan sainganmu," lanjut si ahli agama.

“Dan terakhir, ya doa,” pungkasnya.

Sesampainya di rumah, dia melakukan semua yang diperintahkan si ahli agama. Dan benar saja, semakin hari keadaan tokonya menjadi normal. Para pelanggannya kembali satu persatu, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ekonominya meningkat hari demi hari secara perlahan.

Tidak ada seorang pun yang tahu tentang peristiwa yang akan terjadi. Kemudian tersebar kabar bahwa pemilik toko yang menggunakan santet itu kini berada di dalam penjara, namun ada juga yang membantahnya.

Konon ada salah satu warga yang melaporkannya terkait kasus penyebaran berita hoaks tentang dagangan saingannya. Berita semakin simpang siur, karena ada juga yang mengatakan kalau si lelaki itu pergi merantau bersama keluarganya yang tempatnya juga tidak diketahui. Tak ada yang tahu pasti. Begitulah santet modern yang kini menjelma menjadi produk hoaks.


Penulis : Ahmad Aqil Al Adha, Santri Ponpes Nurul Jadid yang baru lulus MTS NJ

Editor : Muhlas

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.