Refleksi Perjuangan, di Makam Pahlawan Kabupaten Bondowoso

Taman Makam Pahlawan di Silokambang, Kotakulon, Bondowoso, Jawa Timur 
Pak sutarno yang kini menjadi juru kunci di Makam Pahlawan Kabupaten Bondowoso. Setiap hari beliaulah yang membersihkan dedaunan yang runtuh dari pepohonan di sekitar makam. Lelah beliau sungguh berarti menjaga sang pejuang bumi Bondowoso.

"Sudah berapa lama samean menjadi juru kunci Makam Pahlawan ini pak?" Tanyaku pada beliau yang sedang duduk di bawah pohon wringin. 

"Saya Pindah ke bondowoso Tahun 70-an, saya lahir di Banyuwangi, pada tahun 1956. Dulu sebelum saya ke Bondowoso, Besuki menjadi tempat perantauan bersama orang tua. Alhamdulillah sudah lumayan cukup lama," ujar pak Sutarno. 

"Lumayan lama ya pak, apakah bapak masih menututi di saat para pahlawan ini berjuang di Bondowoso khususnya," Tanyaku kembali. 

"Tidak, ketika saya di Bondowoso suasana sudah damai, ramai dan damai," jawabnya

"Gimana ceritanya kok bisa bapak yang ditunjuk sebagai juru kunci makam pahlawan ini pak?" 

"Jadi, dulu itu saya memang dicari sebagai pengganti penjaga makam ini yang sudah meninggal dunia sebelum saya. Mengapa? Karena mertua saya masih termasuk pejuang '45 (Kemerdekaan). Makamnya berada di makam yang tengah dan sebelah utara. Namanya pak Marijo beliau asli orang Jogja dan istrinya orang Cilacap, jadi itu di setiap makam yang 3 tempat itu ada pembagiannya. Pembatas yang ada bacaannya' Gerbong Maut', dari bacaan itu ke selatan itu yang pernah ikut berjuang dalam peristiwa Gerbong Maut. Maka dari itu, di antara makam pahlawan gerbong maut tersebut banyak nama yang tidak dikenal. Sebab, ada yang keluarganya tidak ditemukan hingga sekarang."

Baca juga :

"Begitu miris ya pak, bagaimana jika di saat itu ada saya," tersentuh hati. 

"Kemudian, dari pembatas itu ke utara itu Pejuang '45 (Kemerdekaan). Sedangkan, di samping makam mertua saya itu rata-rata masih murid beliau, Pak Marijo." Jelasnya semakin membuat pikiran terbuka. 

Perbincangan tiada henti antara saya, pak Sutarjo (Juru Kunci Makam Pahlawan) dan Aliv (Teman seangkatan) di PMII. Rugi jika kita keluar dari suatu tempat yang bersejarah tanpa tau sedikit ulasan dari sejarah adanya tempat tersebut. 

JAS MERAH (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Walau cerita yang disampaikan tidak utuh namun cukup membuka ruang berpikir untuk bagaimana lebih mencari tahu lagi sejarah pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Terutama Makam Pahlawan yang ada di kota Bondowoso. 

"Di setiap pohon wringin ini memiliki penjaganya terkecuali 1, pohon waringin yang terletak di tengah sebelah selatan. Ketika kamu melewati gerbong pertama dan sebelah kanan itu ada pohon waringin yang menjaga disitu perempuan. Lalu, di depan pohon waringin yang pertama itu yang menjaga seperti tuyul kecil sekitar 5 makhluk. Lalu di paling sebelah kiri, di tengah sebelah utara itu yang menjaga laki-laki dan perempuan. Kemudian, paling barat di sebelah selatan itu yang menjaga laki-laki dan penjaganya paling ganas dari penjaga pohon waringin sebelumnya. Oleh karena itu, ketika mau masuk makam pahlawan ini usahakan pamitan dulu. Karena jika tidak pasti akan terjadi hal aneh pada diri kalian. Sebab, sering terjadi jatuh tiba-tiba setelah masuk gerbang itu. Itupun belum sampai kepada paving di tengah tersebut. Oleh karena itu, makam pahlawan ini keramat tidak boleh kita sembarangan karena orang yang dimakamkan disini bukan orang sembarangan pula," jelasnya. 

"Betul sekali pak, tentu kita harus benar-benar menghormati dan merawat makam ini dengan sebaik mungkin. Sebab, perjuangan para beliau-beliau tidak akan pernah sirna hingga akhir nanti. Kenangan jasa terus terpampang dalam sejarah peradaban perjuangan kemerdekaan," kataku mengiyakan cerita pak Sutarjo

"Lah makanya, banyak pemuda sekarang tidak peduli dengan orang yang sudah mendahului kita. Baik Pahlawan, Bujuk-bujuk, ataupun pembabat desa-desa di Kabupaten Bondowoso," keluhnya

"Sangat benar sekali, kepedulian akan hal itu sedikit sekali. Jika di persentase maka bisa di bilang hanya beberapa persen saja. Mungkin ini yang dikatakan kemerosotan pengetahuan sejarah. Padahal banyak hal yang bisa kita petik dari semua itu. Seperti apa yang saya bincangkan dengan bapak saat ini ya pak."

"Iya betul sekali nak, semoga barokah dan acaramu ini menjadi bermanfaat untuk kalangan banyak." kata pak sutarjo pada saya. 

Pak Sutarjo, Selain beliau menjadi juru kunci, sebenarnya ada amanah lain yang harus beliau jalankan setiap hari. Ketika pekerjaan untuk membersihkan makam pahlawan sudah dilaksanakan, sekitar jam 9 beliau harus rela mengayuh sepeda ontelnya untuk berkeliling menjadi tukang jahit sepatu keliling. 

Sungguh luar biasa, dia lahir dari sarang sang pejuang dan kini hidupnya masih dalam Refleksi Perjuangan. Sejarah harus kita baca, sejarah harus kita abadikan. Karna arsip sejarah sangatlah penting untuk kehidupan. 

"Satu hal lagi, di sebelah baratnya Universitas Bondowoso (UNIBO) ini ada makam kosong. Lalu di sana ada sumur yang sangat dalam, sumur itu menjadi tempat pembuangan mayat, pada masa penjajahan terdahulu. Namun, untuk saat ini saya kurang tau bagaimana keadaan sumur tersebut," kata pak Sutarjo, menambah pengetahuan padaku. 

"Astagfirullah, jadi Bondowoso juga punya seperti kisah lubang buaya itu ya pak. Yang hanya cukup satu orang saja?" tanyaku tambah penasaran

"Iya, konon katanya ketika ada orang mati di buang sembarangan kesana," ungkapnya

Dari cerita yang disampaikan oleh Pak Sutarjo sedikit mengungkapkan bahwa saat ini kita telah berada di zona nyaman. Jauh dari kenestapaan masa yang cukup suram kala itu. 

Maka rawatlah bumi pertiwi ini dengan baik, rawat makam para pahlawan pejuang kemerdekaan tersebut. Sebab, masa yang mereka lewati bukan masa kemakmuran dan jauh dari keamanan. Akan tetapi, Tekad juang mereka begitu luar biasa untuk menjadikan Indonesia. 

Wahai para pahlawan bangsa yang telah gugur, kini bumi pertiwi ini tidak lagi seperti dimasamu. 

Semangat juang pahlawan dimasamu begitu membara. Berbeda dengan hari ini, generasi millenial penuh keluh kesah sehingga menjadikannya cenderung enggan merawat sejarah, bahkan melupakannya. 

Sangat miris sekali, lalu apa yang akan kita berikan sebagai penerus perjuangan? 



Penulis : Maulana Haris

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.