Menangkal Hoax Ala Nabi Muhammad SAW

Taufik Qulfatah, Aktivis Mahasiswa PMII IAIN Jember (Foto : Tom Kreatif)

Saat ini berita bohong sangat banyak bermunculan di media sosial, Para oknum sengaja menyebarkan berita bohong ini dalam rangka untuk memperdaya dan merugikan masyarakat. Untuk menghindari hal itu, Masyarakat haruslah mengetahui  dalam menyikapi persoalan hoax ini dengan cara mengikuti apa yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW.

Berita bohong atau yang biasa di kenal dengan hoax bukanlah pertama kali terjadi, sebenarnya hoax (hadist al-ifki) sudah pernah menimpa keluarga nabi Muhammad SAW yaitu Ummul mukminin Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu.

Beliau dituduh telah berselingkuh dengan salah satu sahabat Nabi bernama Shafwan bin mu'aththal pada saat tahun kelima hijriah setelah pulang dari ekspedisi musthaliq. Ceritanya bermula pada saat rombongan Nabi Muhammad beristirahat di suatu tempat dalam perjalan pulang ke Madinah usai perang Muraisyi'. 

Baca Juga :

Siti Aisyah keluar dari tandu untuk mencari kalungnya yang hilang namun pada saat kembali ke tempat rombongan  beristirahat, beliau sudah tertinggal oleh rombongan Nabi Muhammad yang melanjutkan perjalanannya ke kota madinah.

Siti Aisyah memutuskan untuk tetap menunggu di tempat tersebut agar rombongan menyadari bahwasanya istri Nabi Muhammad SAW telah tertinggal dan mencari di tempat peristirahatan. Namun, setelah sekian lama menunggu masih tidak ada orang yang menjemput beliau sampai pada akhirnya Shafwan bin al-muaththal lewat di tempat Aisyah seraya kaget mengucapkan "innalilahi wa innailaihi Raji'un". 

Shafwan langsung gercap membungkukkan untanya agar Siti Aisyah dapat menunggangi untanya untuk membantunya pergi ke tempat rombongan Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanan Shafwan bin mu'aththal dan siti Aisyah tidak berbicara satu katapun. 

Peristiwa ini dimanfaatkan oleh orang munafik untuk membuat Berita bohong (hadist al-ifki) yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul dan disebarkan oleh Hassan bin Tsabit, Misthah bin Atsatsah, dan Hamnah binti Jahys sehingga Madinah geger dan terjadi kegoncangan ditengah muslimin dengan kabar selingkuhnya Siti Aisyah.

Melihat kabar itu, Nabi Muhammad SAW tetap diam dan hanya menunggu Wahyu turun saja. Namun Karena Wahyu tidak kunjung turun Nabi Muhammad meminta pendapat dari para sahabatnya yaitu Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan yang lainnya terkait dengan persoalan tersebut seperti yang di terangkan oleh Syaikh Shasfiyurrahman al-mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah (2008). 

Sedangkan Aisyah yang telah jatuh sakit selama satu bulan setelah perjalanan dari perang Murasiyi' juga mendapatkan ijin untuk tinggal di rumah orang tuanya. Dalam satu riwayat Siti Aisyah menangis selama dua malam tanpa henti dan merasa bahwa Nabi Muhammad SAW telah berbeda tidak ada bercanda dan kurang perhatian. 

Siti Aisyah sabar menghadapi fitnah tersebut sampai Allah membelanya. Sehingga pada akhirnya Wahyu turun yaitu surat an-Nur ayat 11 yang menjelaskan bahwasanya Aisyah tidak berselingkuh dan menampilkan bahwa berita tersebut adalah berita bohong.

Baca Juga : Jihad Membasmi Hoax, Inilah Tips yang Bisa Dilakukan

Berdasarkan cerita tersebut, ada enam pelajaran yang di dapat dalam mengahadapi berita bohong dan menjadi rujukan untuk kita dalam mengahadapi sebuah isu yang masih tidak jelas sumbernya seperti apa yang di sebutkan oleh Quraisy Shihab yaitu Pertama, Nabi Muhammad tidak langsung mempercayai berita tersebut dan meminta pendapat kepada sahabat. Kedua, Aisyah sabar dan meminta pembelaan dari Allah. Ketiga, Mengajarkan kita bahwasanya isu tidak boleh di sebarkan karena sangat berbahaya bagi kesatuan umat. Keempat, mengajarkan kita untuk tetap menjaga kehormatan seorang dan memelihara nama baik seseorang. Kelima, Allah SWT pasti membantu orang yang dianiaya cepat atau lambat. Keenam, Memaafkan. 

Wallahu a'lam bissallab


Penulis : Taufik Qulfatah, Aktivis Mahasiswa PMII IAIN Jember

Editor : Gufron


Referensi :

Wafiyah, Ma’rifatul. 2016. Meneladani Kisah Sayyidah Aisyah Radiyallahu Anha dan Relevansinya dengan Pendidikan Akhlak. Skripsi. Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo. 
- Ulfah kholiliana nefiyanti. 2019. BERITA BOHONG DALAM AL-QUR’AN (Studi Atas Penafsiran M. Quraish Shihab Terhadap QS. An-Nur [24]: 11-18 dalam Tafsir Al-Mishbah).  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
https://uninus.ac.id/pelajaran-dari-kasus-berita-bohong-yang-menimpa-sayyidah-aisyah/

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.