Hamba Seribu Pinta

Ilustrasi, seorang Hampa yang meminta pengampunan sang Tuhan

Corong dan kubah menjulang dengan megah 

Tiupan semilir angin sedikit demi sedikit menyibak dengan anggunnya jubah hitam beserta hijabnya

Pancaran menawan warna langit menampakkan begitu agung ciptaanNya

Jingga, abu-abu bercampur menjadi satu, menghasilkan warna ketenangan dalam kehidupan

Bayang liminasa hidup ketenangan mampir dalam otak dengan seribu konflik 

Mohon ketenangan dalam raga dan hati Tuhan, lunglai rasanya jiwa, menghadapi konflik dengan cobaan menerjang.

Baca Juga :

Cacian silih berganti datang atas nama personal 

Kritik kejam tanpa belas kasihan dengan mudahnya menyapa 

Jika bathin bisa berucap ingin rasanya beteriak ; 

“Mengapa Tuhan? Hidup begitu menyesakkan dada, menguras tenaga, menambah beban pikiran dan jiwa, sudah ku lontarkan do’a seribu pinta, sangat merendah serendah-rendahnya sebagai hamba, tak ada bandingan secuilpun untuk menegakkan kepala dihadapanNya. Aku tak ada apa-apanya jika tak seizin Engkau ya Allah. Tuhan penggerak segala sector kehidupan, penjelma kasih sayang melebihi luasnya samudera dan lautan.”

Manusia tak ada malunya, meminta seluruh dunia, menjauhi akhiratnya

Dimana letak urat malunya? 

Selalu saja, manusia banyak omong dan pinta, dangkal iman dan kejujurannya. Tak malukah pada sang Pencipta alam semesta?

Sedang ku tatap bintang, secuil harapan menjemput asa dengan bingkai kasih sayang

Adakah salah dari seorang hamba, yang meminta siang malam pada Rabb-Nya? Demi kemudahan hidup dari pahitnya kehidupan semacam empedu, perihnya perjalanan semacam sayatan pedang, serta peliknya finansial 

Adakah salah dari seorang hamba, yang menangadahkan tangan meminta finansial, harta dan tahta pada Tuhan yang Maha Kaya?

Meminta mulai dari sebiji padi sampai seluruh seisi bumi. Ahh… manusia, serakah, tamak, tak ada malunya, selalu meminta dunia, minim iman dan akhiratnya.

Baca Juga : Dosa to Surga, Amal Kebajikan to Neraka

Tak bisakah pikirkan akhirat walau seditik saja? Tuhan sudah sangat baik rasanya, memberimu asa hidup sekian tahun lamanya, memberimu sekodi beras setiap harinya

Tak bisakah bersyukur walau hanya seucap hamdalah wahai manusia? Tuhan ciptakan kamu dengan begitu sempurna, memberimu organ dan sel dengan fungsi yang sangat luar biasa, memberimu getar rasa ketika cinta menyapa, memberimu rasa takut bila konflik bersemai dengan masa

Tak apa kamu menjadi hamba seribu pinta, asal syukur tak luput dan tak lupa kamu lontarkan pada Tuhan dan semesta.


Penulis : Iffah Annisa’ Santri PPI Nurul Burhan Putri Al-Iffah 2, Badean Bondowoso

Editor : Muhlas

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.