Antara Kitab Suci, Agama dan Fakta Kemanusiaan

Abdul Wasik, M.Hi, Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Wonosari, Bondowoso, (Foto : Tim Kreatif) 
"Sederhana tapi bermakna." Inilah kesimpulan sementara penulis dari penampilan puisi Gramatikal  yang dilakoni oleh Mahasiswa ketika mengisi waktu acara seminar sehari Filsafat Manajemen Islam di STAI At Taqwa Bondowoso.

Dalam penampilan puisi Gramatikal  itu ada 4 tokoh sebagai pemainnya. Pertama, sosok Pejabat sebagai perwakilan dari pemerintah, dengan angkuh dan sombong, menggunakan dasi di dadanya, dia berkata:

"Akulah pejabat….!!!!" 

Ia merasa segala kebijakan yang ditentukannya semata-mata karena kepintaran, kepandaian dan kesuksesannya, walaupun disisi lain tidak sedikit masyarakat yang menderita karena ulahnya. 

Kedua, Seorang Pemuda cerdas dan kritis terhadap pemerintah. Ia banyak mengkritisinya karena dianggap kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada masyarakat jelata tapi justru kebalikannya selalu memprioritaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya. 

Pemeran Ketiga, seorang Pengamen. Ia berjalan dari satu pintu kepintu lainnya, mengamen kepada orang miskin sampai yang kaya, masyarakat kecil sampai pemerintah yang berkuasa. Namun yang diberikan mereka-mereka tidak sebesar jabatannya dan bahkan tidak sedikit pula pemerintah yang menyembunyikan tanganya. Sehingga dengan lantang pengamen tersebut menjerit “PELIT KAU”. 

Keempat, Orang tua yang buta. Hidupnya selalu ditemani dengan tongkat tua sebagai penunjuk jalan kemana ia melangkahkan kakinya. Si Kakek ini seringkali mendengar keluhan-keluhan rakyat baik melalui media atau panca Indera lainnya. ia sering mendengar rakyat miskin menjerit karena  kekurangan sandang pangan, mendengar berita pemerintah yang sedang berebut kursinya dan lain sebagainya. 

Sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menggerutu “Apakah agama sudah tinggal nama, apakah ia sudah tidak mengenal Allah sebagai tuhannya."

Baca juga : 

Makna dibalik puisi Gramatikal  ini adalah secara implisit orang sering menyamakan Idealisme dan Realitas. Hal ini terlihat dari kenyataan kaum Agamawan yang cenderung Apologetik menghadapi kasus-kasus kekerasan yang melanda Indonesia akhir-akhir ini. 

Pelakunya bukan hanya masyarakat awam tapi sampai kelompok cendikiawan. Bukan hanya dari seorang pembajak tanah tapi justru muncul dari pemerintah. Padahal mereka mengatakan bahwa agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan perdamaian. 

Sementara konflik kekerasan atau pembunuhan adalah akibat dari oknum-oknum yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan individu ataupun kelompok. Bahkan sering orang menuduh aspek politik dan ideologi telah menodai ajaran agama. Maka agama diposisikan sedemikian suci dan seakan-akan berada di luar kerangka kemanusiaan. 

Padahal agama yang real adalah yang dihayati oleh pemeluknya yang mengajarkan hidup sederhana, hidup kebersamaan, penuh dengan kepedulian dan selalu menjunjung tinggi moralitas dalam kehidupan.

Lalu apa arti dan tujuan kehadiran agama?, Jika dikembalikan pada situasi faktual sehari-hari, Pesan agama yang sebenarnya ditujukan kepada seluruh umat manusia, ternyata hanya dimonopoli sekelompok orang. Pemeluk suatu agama, atas nama agama masing-masing seakan mendapat izin membunuh karakter sesama manusia yang dicurigai akan mengusik eksistensi komunitas mereka. 

Sebaliknya, dalam komunitas agama tertentu terdapat sistem pengukuhan sebagai legitimasi yang memiliki otoritas pemberi kebenaran (truth) dan keselamatan (salvation) bagi pemeluknya.

Kewajiban sebagai umat beragama adalah bagaimana membumikan misi suci agama-agama samawi itu dalam kehidupan nyata. 

Pluralisme yang akhir-akhir ini dijadikan kambing hitam terhadap biang petaka, hendaknya selain dipandang fakta historis-meminjam istilah Nurcholish Madjid - merupakan fakta teologis, yaitu universalitas pesan agama dan merupakan satu kesatuan yang utuh bagi semua agama samawi, yang mewarisi Abrahamic religions. Dengan majemuknya kehidupan beragama di negara kita, implementasi teologi pluralisme tampaknya menjadi suatu keniscayaan.

Pengalaman masyarakat Madinah yang dipimpin Nabi Muhammad layak dijadikan contoh sebagai masyarakat yang mampu menjaga toleransi beragama dalam Islam. Dengan model ini, Islam dianggap sebagai agama yang bisa menghargai keberadaan ummatnya. Nabi Muhammad multi fungsi yang semuanya bisa diteladaninya. 

Masyarakat biasa bisa mencontohNya dari sisi kesederhanaan dan pola menghormati kepada sesama. Seorang pedagang bisa mensuriteladani dari aspek kejujuran dan kegigihannya. Sampai seorang pejabat Negara pun juga bisa mencontoh dari sikap berani dan pengambilan kebijakan yang selalu memprioritaskan kepentingan ummatNya, dan seorang “Agamawan” bisa meniru cara komunikasi dan berdakwahNya. Apa yang kurang darinya sebagai pembawa misi agama….?

Melalui agama kita diajarkan untuk saling bertukar pendapat dan gagasan serta secara tidak langsung menghormati adanya perbedaan. Dinamika keterbukaan itu juga membuka kebebasan. Sedangkan logika kebebasan adalah tanggung jawab. 

Seseorang dikatakan bebas apabila ia melakukan sesuatu seperti yang dikehendaki atas pilihannya sendiri, sehingga orang tersebut secara logis dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya. Lebih-lebih perbedaan ini memang muncul sejak agama islam disebarkan dan itu menjadi rahmat bagi pengikutnya.

Sebagai catatan akhir dari tulisan ini bahwa agama sejatinya tidak melulu disibukkan dengan mengurusi persoalan ketuhanan, klaim kebenaran atau pemahaman doktrin-doktrin yang hanya dijadikan slogan simbolik dan sebatas perilaku ritual. 

Agama harus peduli pada ketertiban lingkungan, keamanan sosial, kerukunan antar umat beragama dan kasih sayang sesama manusia. 

Oleh karena itu, agama hendaknya dikembalikan ke sumbernya sebagai kerangka nilai hingga diharapkan mampu memberikan kerangka moral demi terbentuknya moralitas bermasyarakat. Seperti nilai-nilai perdamaian, kebenaran universal, persamaan, persaudaraan dan hubungan yang harmonis dalam kompleksitas tata kehidupan yang pluralis. 


Penulias : Abdul Wasik, M.Hi, Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Wonosari, Bondowoso. 

Editor : Gufron

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.