Gus Dur dan Politik Kemanusiaan

Foto Gus Dur, (Desainer : Tim kreatif)
“Sudah 11 tahun kita ditinggal Gus Dur. 11 tahun Indonesia tanpa Gus Dur. Pelan tapi pasti, ramalan-ramalan Gus Dur tentang Indonesia semakin terang-benderang, hampir semuanya terbukti. Masyaallah, saya semakin yakin bahwa Gus Dur adalah Wali Allah. Untuk Gus Dur al-fatihah…!” ucapku, membuka diskusi pagi ini.

“Lah iya Ji, kemaren saya dapat pesan berantai dalam buku ‘Menjerat Gus Dur’. Datanya mengerikan ya, tentang orang-orang yang berkomplot menjatuhkan Gus Dur. Ada Fuad Bawazir, Akbar Tanjung, Amin Rais, Megawati, Arifin Paniogoro dan beberapa nama lainnya. Ngeri, kejam sekali politik ya?” timpal Pak Desi.

 “Wah, diskusinya kok mulai ke arah politik lagi nih? temanya berat lagi. Ngeri-ngeri sedap hehehe. Terkait konspirasi, tentang sejarah perilaku politik nama-nama besar di negeri ini. Menarik nih, sayangnya kopi Mak Yam belum keluar ya. Tanpa kopi arabika, saya tidak bisa merokok, tanpa rokok saya mendadak tidak cerdas.” sahut Cak Mamat dengan datar dan polosnya.

Kami semua hanya bisa tersenyum dengan komentar Cak Mamat. 

Baca juga : 

“Tuh Cak, Mak Yam sudah Datang.”, jawab Pak Salam, sembari menunjuk ke arah rumah Mak Yam yang tidak jauh dari Musholla kami.

Nampak Mak Yam datang bergegas. Kepulan asap dari kopi dan tape goreng suguhan Mak Yam, menari-nari menggoda kami para jama’ah subuh.

“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa cerdas hahahaha.” kelakar Cak Mamat.

“Buku itu bagus, meskipun saya belum baca. Tetapi, beberapa teman yang sudah membacanya menceritakan kepada saya. Kalau buku itu memang bagus. Datanya juga hasil investigasi mendalam, khas data yang didapat seorang wartawan. Ditambah lagi, sepertinya ada campur tangan Tuhan dengan data-data tersebut. Misal, data awal yang menceritakan rencana ‘jahat’ menjatuhkan Gus Dur itu, didapatkan dalam kantor Golkar oleh sang penulis. Tanpa disengaja. Dia mendapatkan data dari barang-barang bekas di kantor Golkar. Ternyata berupa arsip lama berisikan dokumen rencana penggulingan Gus Dur kala itu. Sepertinya, Allah Swt mulai membuka satu per satu sejarah kelam kejahatan itu. Ucapan Gus Dur yang mengatakan bahwa adanya konspirasi politik kelas tinggi dalam penjatuhannya, semakin terbukti. Menguatkan bahwa Gus Dur tersandung kasus korupsi Bulog Gate dan Brunei Gate adalah benar hanya fitnah belaka. Tanpa data dan buku ini saja, sebenarnya sudah jelas, kenapa? Karena di pengadilan, ketika kasus ini disidangkan, sama sekali tidak ada bukti yang mengarah terhadap Gus Dur,” jelasku sedikit panjang

“Loh, tapi kenapa Gus Dur jatuh juga akhirnya Ji?” tanya Mas David.

“Karena Gus Dur kalah di DPR/MPR. Mereka berhasil menggalang kekuatan politik di Senayan untuk menjatuhkan Gus Dur. Benar-benar kerja politik yang rapi. Masing-masing pihak punya tugas dan kewajiban. Mulai dari Amin rais, Akbar Tanjung, Arifin Paniogoro dan tentu saja Fuad Bawazir. Semua nama itu bekerja sama untuk menjatuhkan Gus Dur. Persis sama dengan dokumen yang dimuat dalam buku tersebut, atas dasar tulisan Fuad Bawazir yang ditujukan pada akbar Tanjung. Tapi, itulah politik, kejam dan kadang pula sangat jahat,” jelasku.

“Memangnya Gus Dur dan NU tidak melakukan perlawanan Ji?” tanya Cak Mamat dengan pertanyaan polosnya.

“Sebenarnya massa pendukung Gus Dur luar biasa banyak, ada yang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bergelombang untuk datang ke Jakarta. Sebagian dari mereka bahkan rela mati untuk Gus Dur. Mereka menanamkan dalam dirinya sebagai pasukan Berani Mati. Tidak main-main, massa ini mencapai ratusan ribu orang. Akan tetapi, Gus Dur melarang mereka untuk melakukan anarkis dan memintanya pulang ke daerahnya masing-masing. Kata Gus Dur, ‘jabatan sebagai presiden tidak perlu harus dibela mati-matian. Hanya karena alasan jabatan seorang presiden, darah rakyat Indonesia menetes’. Ini hebatnya Gus Dur, beliau tidak mau konflik kekuasaan menjadi penyebab lahirnya kekerasan antar anak bangsa. Gus Dur hanya mengatakan, ‘Nanti sejarah yang akan membuktikan. Siapa yang benar dan siapa yang berkhianat kepada konstitusi. Mereka yang berkhianat, akan jadi gelandangan politik’. Semua pernyataan Gus Dur lambat laun mulai terbukti, banyak dari mereka yang terlibat atas pengkhianatan terhadap konstitusi tersebut. Mulai menggelandang. Tidak jelas posisinya sebagai apa, malah ada yang sudah mendapat predikat sebagai sengkuni, Masyaallah,” paparku.

“Lalu Gus Dur Bagaimana?” tanya kembali Cak Mamat.

Gus Dur tetap santai Cak, karena berpolitik bagi beliau hanya menjalankan amanah untuk ikut serta memperbaiki keadaan, tujuannya ibadah. Karena ibadah, konsentrasinya pasti kepada Allah. Beliau santai, bahkan selalu bilang, ‘saya tidak dendam. Akan tetapi saya tidak akan melupakan,” pungkasku


Penulis : Dr H Muhammad Syaeful Bahar, M.Si, Ketua Dewan Pendidikan, Kabupaten Bondowoso

Editor : Haris



Posting Komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Lebih baru Lebih lama

IKLAN