Tawassul yang Disyirikkan dan Dibid’ahkan (Part 1)

Ilustrasi, berdoa (Foto : Tim Kreatif) 
Sejatinya agama Islam hadir untuk memberikan kebahagiaan dan petunjuk kepada sekalian manusia. Kehadirannya harus terus dijaga agar tetap menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam beragama Islam. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam beragama (Islam) pasti akan mengalami suatu perbedaan pendapat antar umat (Islam) yang satu dengan lainnya.

Seperti perbedaan yang dikatakan salah satu ustadz di daerah rumahku ketika kutemui ia berbincang-bincang dengan salah seorang teman ngajiku dulu—sebelum nyantri, di dalam rumahnya. Perbincangan mereka berdua begitu menarik kelihatannya, karena bukan hanya bincang-bincang biasa. 

Sepintas kudengar percakapan keduanya tentang tawassul yang katanya adalah perbuatan syirik, tidak pernah diajarkan oleh agama. Orang-orang yang mengamalkan tawassul dianggap kafir oleh ustadz itu dan dengan begitu percayanya, teman ngajiku percaya begitu saja.

Baca Juga : 

Sebelum pulang, teman ngajiku diberi amplop—entah isinya apa aku tidak tahu, oleh ustadz yang bernama Fuad. Yang jelas, (penilaianku) isinya adalah uang, tidak mungkin kalau bukan uang dan nominalnya tentu bukan receh.

* * *

Ahad pagi di teras rumah Ustadz Fuad kembali kupergoki teman ngajiku bersantai ria sambil memperbincangkan sesuatu. Kali ini aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Jarak pengintaianku dengan mereka agak jauh dan pembicaraan mereka sengaja tidak dikeraskan. Mungkin khawatir didengar oleh orang lain. Mungkin saja.

Lama kelamaan teman ngajiku yang bernama Lukman pun mulai bangkit dari duduknya. Ketika bersalaman dengan Ustadz Fuad, kulihat ada kertas putih diikat oleh dua tangan; antara Ustadz Fuad dan Lukman. Firasatku mengatakan kertas putih itu adalah amplop dan isinya adalah uang, sama halnya seperti yang kulihat dua hari yang lalu di dalam rumah Ustadz Fuad.

Aku bergegas melangkahkan kaki menuju rumah setelah melihat pemandangan itu. Baru sekitar 100 m melangkah, kudapati Lukman mulai masuk ke rumah Senol—salah satu teman karibnya sejak SD. Aku mendekat memperhatikan Lukman dan Senol dari warung samping rumah Senol. Lumayan terdengar perbincangan mereka.

“Kamu ingin punya pekerjaan, Nol?” Kata Lukman.

“Siapa yang tidak mau punya pekerjaan, Man?” Senol membalikkan pertanyaan.

“Ayo kerja sama aku, Nol. Kerjanya mudah banget, bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun,” Lukman mulai mempengaruhi.

“Gajinya perbulan apa perhari?”

“Perorang, Nol,” Lukman mendekat, menjelaskan.

“Busseet. Kerjaannya ini membunuh orang?”

“Bukan. Kamu hanya tinggal mempengaruhi orang-orang bahwa tawassul, tahlil, ziarah kubur dan yang lainnya itu syirik, haram, kafir,” Lukman melanjutkan aksinya.

“Loh. Itu kan sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu? Kenapa bisa kafir?” Bantah Senol.

“Orang-orang terdahulu itu siapa? Di akhir zaman seperti ini, kita harus kembali kepada al-Qur’an dan Hadits. Ayo, apa ada dalam Hadits bahwa tawassul, contoh gampangnya, dianjurkan oleh Nabi kita?”

Senol tidak menjawab. Pengetahuan keagamaannya tidak mampu menjawab pertanyaan Lukman yang licik. Dalam fase ini, Senol merasa bimbang harus percaya atau tidak dengan penjelasan Lukman. Ia masih diam termangu mencoba berpikir untuk menjawab pertanyaan Lukman. Sayangnya, Senol benar-benar tidak mampu menjawab sampai akhirnya Lukman mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Ini untuk kamu, Nol. Kalau kamu mau ikut kerja denganku, nanti ustadzku akan memberimu lebih dari ini. Aku pamit pulang,” ujar Lukman yang sengaja memberi Senol uang agar cepat-cepat menjawab apakah ingin bergabung atau tidak.

Senol tidak tahu apa maksud Lukman memberinya uang sampai akhirnya ia keluar dan memanggil Lukman yang belum jauh pergi.

“Tunggu, Man!” Cegat Senol dengan lantang.

Lukman berbalik menghadap ke arah Senol yang memanggilnya dengan keras. Senol melangkah setengah berlari mendekati Lukman yang diam membisu memperhatikan Senol yang mulai mendekat. Setelah dekat, Senol mengeluarkan uang kemudian menyuruh Lukman untuk mengambilnya kembali.

“Ini uangmu aku kembalikan, Man. Aku tidak tahu apa maksudmu memberiku uang ini, tapi yang jelas aku belum bisa menjawab apakah akan bekerja bersamamu atau justru tidak sama sekali,” tegas Senol.

“Ok, kalau begitu, Nol. Tapi, aku yakin kamu akan bergabung denganku. Kamu tentu butuh uang, kan? Jangan terlalu lama berpikir, Nol. Kesempatan hanya datang satu kali, jangan kau sia-siakan tawaranku,” ujar Lukman berlagak sombong.

Lukman kembali melanjutkan perjalanannya setelah gagal mengajak teman karibnya sendiri bergabung dengannya. Aku yang berpura-pura belanja di samping rumah Senol mulai membuntuti Lukman kembali. Aku yakin Lukman akan mengajak orang lain untuk bergabung dengannya setelah gagal mempengaruhi Senol. Aku juga yakin bahwa Senol—teman karibnya sejak SD, pasti akan ia datangi lagi agar mau bergabung dengannya.

Pantang menyerah, pantang berputus asa.’ Pasti Lukman mempunyai prinsip demikian untuk mengajak orang-orang bergabung dengannya dan setelah banyak yang bergabung ia akan mendapatkan uang yang lebih banyak dari sang Ustadz.

* * *

“Kalau dipikir-pikir, pekerjaan yang ditawarkan Lukman tidak terlalu menguras tenaga. Toh hanya mempengaruhi orang-orang,” ucap Senol dalam benaknya setelah menunaikan salat Ashar.

“Menghasut orang-orang kemudian dapat uang. Gede lagi bayarannya,” tambahnya.

“Tapi, tawassul kan sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Kalau memang syirik, tentu orang-orang terdahulu tidak akan melakukannya, bukan?”

Senol masih menyangkut di dalam dunia idenya. Antara menerima dan tidak tawaran Lukman—teman akrabnya sejak SD, untuk bergabung masih menjadi bahan pemikirannya sampai sore ini.

“Ah, jadi bingung sendiri kalau begini. Aku tanya pada Muhlas, deh. Dia kan masih nyantri dan kebetulan pulang dari pondoknya karena kakeknya wafat,” Senol pun membatin atas ke bingungannya itu

“Apalagi kan ada pepatah mengatakan, 'Malu bertanya sesat di jalan.' Nah, aku tidak mau tersesat tanpa bertanya sebelumnya kepada orang yang lebih tahu mengenai tawassul yang katanya Lukman adalah perbuatan syirik,” lanjut senol dalam benaknya. 

* * *

Halaman rumah sudah kusapu bersih. Salon sudah siap pakai untuk tahlil setelah maghrib nanti. Terpal mulai kuhamparkan di halaman rumah dan beberapa hambal juga kuhamparkan di teras dan ruang tengah rumah karena tahlil nanti akan dihadiri pengasuh pondok pesantrenku.

Aku langsung ke kamar mandi setelah semuanya beres. Jajan dan Teh Rio yang dibungkus plastik untuk orang-orang yang tahlil mulai dikeluarkan oleh saudara-saudaraku.

“Jangan lama-lama kalau mandi,” perintah ibuku.

Aku pun tak berlama-lama berada di kamar mandi. Sekadar membasahi dan menyabuni tubuh kemudian tak lupa berwudlu’ untuk salat maghrib. Usai salat aku langsung keluar ikut menyambut orang-orang yang akan tahlil di rumahku dengan beberapa saudara. Kiai pengasuh pondok pesantrenku belum datang, mungkin masih diperjalanan.

Sekitar lima menit lamanya aku menunggu, akhirnya kiai pun datang. Aku langsung menghaturkannya ke ruang tengah rumahku. Tak lama kemudian, tahlil pun dimulai. Malam ini Lukman tidak ada di barisan orang-orang yang tahlil padahal kemarin ia datang, tapi malam ini ia tidak datang.

Melihat Lukman tidak ikut tahlil, aku langsung teringat pada pertemuan Lukman dan Ustadz Fuad beberapa hari yang lalu. Anehnya, Ustadz Fuad malam ini tetap mengikuti tahlil tidak seperti Lukman. Kehadiran Ustadz Fuad membuatku heran, seperti ada yang mengganjal. Waktu kulihat Ustadz Fuad berbincang dengan Lukman, ia mengatakan kalau tawassul, tahlil, dan yang lainnya adalah perbuatan syirik. Tapi, kenapa ia tetap mengikuti tahlil di rumahku?

Aku curiga, jangan-jangan Ustadz Fuad ingin mempengaruhi orang-orang melalui tahlil di rumahku ini? Mungkin, ia memang sengaja mengikuti tahlil lalu perlahan mulai mempengaruhi orang-orang agar tidak mau bertahlil lagi di malam esok atau bahkan sampai selamanya.

“Licik juga Ustadz Fuad kalau sampai menggunakan cara itu untuk mengajak orang-orang percaya bahwa tahlil adalah perbuatan syirik,” gumamku.

Kuhiraukan pemikiran tentang Ustadz Fuad sampai akhirnya tahlil selesai. Orang-orang langsung pulang dan aku langsung menghampiri kiai di ruang tengah rumahku setelah melihat orang-orang pulang. Lagi-lagi aku dibuat heran oleh Ustadz Fuad. Ia juga ada di ruang tengah rumahku ikut menemani kiai. Risih sebenarnya, tapi aku mencoba bersikap biasa.

Berhubung ada Ustadz Fuad, ingin rasanya aku bertanya langsung pada kiai mengenai tawassul yang katanya Ustadz Fuad adalah perbuatan syirik. Tapi, ketika aku mulai mengajukan pertanyaan mengenai hal itu, Ustadz Fuad langsung berdiri kemudian berpamitan untuk pulang.

“Tawassul itu bukan perbuatan syirik. Justru tawassul memang diperintahkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 35,” kata kiai menjawab pertanyaanku setelah Ustadz Fuad pulang.

“Tawassul itu kan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui perantara, baik melalui para nabi, waliyullah, dan yang lainnya. Itu yang dimaksud dengan tawassul,” imbuh kiai.

“Kapan hari ada yang mengatakan Kiai, bahwa tawassul itu katanya adalah perbuatan yang syirik dan tidak dibenarkan oleh agama,” jawabku, mencoba menjelaskan.

“Apa alasannya mengatakan tawassul itu perbuatan yang syirik?” Tanya kiai.

“Tidak paham, Kiai. Yang saya dengar katanya tawassul ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW alias bid’ah.”

Kiai tertawa namun tidak keras mendengar jawabanku.

“Tawassul itu sudah diperintahkan di dalam al-Qur’an. Yaa ayyuhal ladziina aamnut taqullaaha wabtaghuu ilaihil wasiilah…al-ayat. Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dan mencari wasilah—perantara, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ungkap kiai.

“Contoh gampangnya begini. Orang kalau mau bertemu dengan bupati, kalau tanpa orang dalam atau orang yang sangat dekat dengan bupati apakah bisa langsung bertemu?”

“Tidak, Kiai,” jawab kakakku.

“Kalau melalui orang yang sangat dekat dengan bupati apakah bisa langsung bertemu?”

“Bisa, Kiai,” jawab kakakku lagi.

“Masih butuh perantara orang yang dekat dengan bupati kan kalau ingin bertemu? Nah, sama halnya dengan kita ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kalau tanpa perantara nabi atau waliyullah, kita tidak akan bisa langsung dekat dengan Allah SWT,” jelas Kiai. 

Menarik, yuk Baca : 

“Kalau masalah bisanya bisa, hanya saja itu butuh proses yang lama," Imbuhnya

“Paham, Las?” Tanya kiai.

“Alhamdulillah. Terima kasih pencerahannya, Kiai,” jawabku penuh takdzim.

Dalam hati aku bergumam, “Andai Ustadz Fuad ada ketika Kiai menjelaskan tentang hal ini, pasti dia tidak akan bisa menjawab.”

Begitu aneh memang. Ustadz Fuad yang menganggap tawassul, tahlil, ziarah kubur dan yang lainnya haram malah justru tadi ikut tahlil di rumahku tadi. Lalu, setelah aku bertanya tentang tawassul yang katanya perbuatan syirik, Ustadz Fuad langsung pulang mencegah kiai yang hendak ingin menjawab pertanyaanku.

Apa karena takut tidak bisa menjawab, ya? Kukira, iya. Bagaimana menurut kalian?

Jam dinding rumahku menunjukkan pukul 07:40. Tahlil selesai sekitar 20 menit yang lalu. Kiai pun beranjak untuk pamit pulang dan aku mengantarnya sampai kiai masuk ke mobil yang diparkir tak jauh dari rumahku.

Setelah kiai pulang, aku merasa puas dengan jawaban kiai tentang tawassul. Kini, aku sudah punya bahan untuk menaklukkan Ustadz Fuad apabila suatu waktu menghasut masyarakat dengan mengatakan tawassul adalah perbuatan yang syirik. Atau Lukman yang sudah menjadi pengikut Ustadz Fuad.

“Lukman malam ini tidak ikut tahlil. Pasti ia sedang menjalankan misinya malam ini,” gumamku.

* * *

Bersambung..... 

Penulis : Muhlas, Santri Ponpes Miftahul Ulum Tumpeng

Editor : Gufron

Posting Komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Lebih baru Lebih lama

IKLAN