Sayyidatina Halimatus Sa'diyah Ketika Menyusui Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi, seorang Ibu menyusui anaknya. (Foto : Tim Kreatif) 
Setelah Nabi Muhammad SAW dilahirkan, pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah tepat diwaktu subuh. Kala itu, Nabi Muhammad SAW di susui oleh umminya sendiri Sayyidatina Aminah. 

Kemudian, setelah disusui oleh umminya. Baginda Nabi dipindah ke pangkuan Sayyidatina Halimatus Sa’diyah dan disusui olehnya. Dua tahun lamanya Baginda Nabi bersama Sayyidatina Halimah dirumahnya yang terletak di sebuah pedesaan.

Selama Baginda Nabi berada di rumah dan diasuh sayyidatina Halimah, keluarganya selalu mendapatkan kebahagiaan, gembira dan murah rezeki serta keberkahan.

Padahal desa tersebut terkenal dengan desa yang kering dengan tanahnya yang tidak subur (tandus). Dan banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi kepada Baginda Nabi. 

Pernah di satu waktu Sayyidatina Halimah kehilangan Baginda Nabi. Sontak Sayyidatina Halimah kaget dan langsung mencarinya.

Pada saat itu sudah masuk waktu dzuhur. Selang beberapa waktu kemudian, akhirnya Baginda Nabi ketemu dan sedang bermain bersama saudara perempuannya yang bernama Radha’nah (Putranya sayyidatina halimah). Maka Sayyidatina Halimah langsung memarahi putranya tersebut. seraya berkata.

Baca juga : 

“Loh, kenapa Muhammad dibawa ke panasnya matahari?” dengan nada marah.

Putranya menjawab, “Tidak Ummi. Muhammad tidak terkena panas matahari sedikitpun, karena setiap Muhammad berjalan pasti ada awan di atas kepalanya yang selalu mengikuti Muhammad kemanapun. Jadi, Muhammad diteduhkan oleh awan tersebut tanpa henti,” Jawabnya dengan lemah dan lembut, memperjelas bahwasanya persangkaan umminya tidak sesuai yang dilihatnya.

Setelah Nabi Muhammad SAW berumur 2 tahun, Sayyidah Halimah berhenti untuk menyusuinya karena dirasa cukup. Lalu, dikembalikan untuk pulang ke Makkatul Mukarramah (pangkuan ibunya). 

Namun, Sayyidah Hatimah masih merasa sangat kurang sekali dalam mendidik Nabi Muhammad. Seakan 2 tahun dijalani begitu singkat.

Akhirnya, Sayyidah Halimah kembali memohon izin kepada Siti Aminah (Ibu Baginda Nabi) untuk membawa muhammad kembali ke keluarga Bani Sa’ad (Desa Sayyidah Halimah). 

“Alhamdulillah”. Ucap syukur Sayyidah Halimah karena Ibunda Nabi Muhammad mengizinkannya untuk menyusui Baginda Nabi kembali.

Selepas kembali ke desanya, kurang lebih dua bulan. Kanjeng Nabi bermain dengan saudara susuannya yang bernama Radha’nah sambil mengembala kambing. 

Tiba-tiba saudara perempuan tersebut berlari dengan hati yang bergetar menghadap kepada Abah (suami Halimah) dan Halimah sembari berkata, “Disana Ummi, Abah. Muhammad di datangi dua orang berbaju putih dan Muhammad ditidurkan kemudian dibelah dadanya.” dengan nafas yang ngas-ngos.

Sayyidah Halimah dan suaminya seketika langsung kaget dan terkejut. Apa yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW. Kemudian, keduanya langsung melompat dan lari menghamipiri Baginda Nabi. Kala itu Baginda Nabi dalam keadaan wajah yang sangat pucat.

Halimah langsung bertanya atas kejadian tersebut kepada Nabi Muhammad SAW, maka Nabi pun menjelaskan seluruh kejadian yang menimpanya. 

Selepas itulah Kanjeng Nabi langsung dikembalikan oleh Sayyidah Halimah kepada Umminya di Makkatul Mukarromah karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak dinginkan lagi.

2 tahun Nabi Muhammad SAW disusui oleh Sayyidah Halimah di desa Keluarga Bani Sa’ad. Selama itu pula, dengan kedatangan Baginda Nabi, keluarga dan desanya selalu bahagia, dimurahkan rezekinya dan selalu diparingi keberkahan . 

Hal-hal anehpun sering terjadi menimpa Baginda Nabi ketika berumur 2 Tahun 2 Bulan, yaitu peristiwa dimana malaikat yang diistilahkan pada cerita diatas dua orang berbaju putih. 

Membelah dadanya ditempat Nabi bermain, dengan maksud untuk membersihkan segala kotoran yang ada dalam dirinya. Hingga saat ini beliau orang yang maksum, Insanul Kamil dan manusia paling sempurna.

Bahkan salah satu mu’jizat dhohir selain dibelah dadanya oleh malaikat, juga setiap beliau berjalan pasti ada awan yang selalu mengikuti dikala panas matahari menghampirinya. Shollu ‘Alannabi Muhammad.

Sungguh sangat luar biasa, kita sebagai ummatnya yang tentu rindu pada-Nya. Maka, jangan pernah lupakan untuk membayar rindu tersebut melalui salam (shalawat) yang harus kita curahkan.

Terjemah Kitab Misykatul Anwar



Penulis : Maulana haris, Santri Pesantren Bahrul Ulum, Tangsil Kulon, Tenggarang, Bondowoso
Editor : Gufron

Posting Komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Lebih baru Lebih lama

IKLAN