Santri MasyaAllah Versus Santri Innalillah

Nilu Dian Apriliana, Ketua Pimpinan Komisariat Pondok Pesantren (PKPP) Ikatan Pelajar Puteri Nahdahtul Ulama (IPPNU) Nurul Ulum, Cindogo, Tapen

Seorang Habib mempunyai dua santri yang memiliki karakter sangat berbeda. Kita panggil saja si MasyaAllah dan si Innalilah. Suatu hari Habib memberi nasihat-nasihat mulia pada kedua santrinya tersebut.

Habib berkata bahwa, "Ilmu itu tidak akan bermanfaat kecuali ta'dzim kepada guru," katanya kepada kedua santrinya tersebut.

Karena ingin melihat respon kedua santrinya, akhirnya Habib memutuskan untuk mengajak si MasyaAllah dan si Innalilah kemakam guru Habib. Habib berpesan kepada kedua santrinya itu untuk membawa batu besar sebelum mereka berangkat. Mendengar perintah itu, dengan taat si MasyaAllah membawa batu besar tersebut.

Namun tidak untuk si Innalilah. Ia berfikir, "Untuk apa bawa batu besar? Sudah berat, jauh pula perjalanannya," ujarnya seakan hatinya berat untuk melakukan perintah tersebut.

Akhirnya, si Innalilah hanya membawa batu kecil. Sehingga diluar perintah yang diberikan oleh seorang Habib tersebut.

Ditengah jalan, si MasyaAllah terlihat kewalahan membawa batu besar. Si Innalilah berkata, "Tobat kau. Siapa suruh bawa batu besar? Kau lihat punya aku, bisa masuk kantong,". Sambil tertawa si Innalilah berlagak sombong.

Baca Juga : 

Sesampainya di makam, duduklah mereka semua didekat makam guru Habib untuk berdzikir, bersholawat, serta berdoa dengan nada yang begitu khusyuk.

Pasca dari pemakaman, mereka bersiap-siap untuk tidur. Tiba-tiba diwaktu larut malam tiba, Habib bermimpi mendapati bertemu dengan gurunya. Dengan segera Habib membangunkan kedua santrinya untuk kembali memerintahkan kedua santrinya untuk menguburkan batu yang mereka bawa. Itu adalah pesan guru Habib yang disampaikan lewat mimpi diwaktu malam tersebut. Tanpa berkata, si MasyaAllah dan si Innalilah langsung mengubur batu yang mereka bawa. Kemudian, melanjutkan kembali tidur mereka hingga pagi tiba.

Paginya, dikala mentari pancarkan sinarnya yang begitu terang dari ufuk timur. Pertanda terbitnya telah tiba yang dinanti. Dengan segera Habib menyuruh kembali si MasyaAllah dan si Innalilah menggali batu yang semalam mereka kubur.

Halaman Selanjutnya < 1 > < 2 >  < 3 > 

Tidak ada komentar

Berikan Komentar Untuk Artikel ini?

Diberdayakan oleh Blogger.